Bussway, efektif tapi semakin tidak nyaman…

P9060063

Awal bulan September saya begitu kagum dengan rute bussway yang menurut saya mempercepat transportasi saya dari Lubang Buaya, di ujung timur Jakarta ke berbagai lokasi di ujung baratnya, Slipi, Grogol, Katedral dsb.

Lubang Buaya – Slipi: 45 Menit!

Kecepatan men-transport itulah yang membuat saya kagum. Memang cukup berdesakan, namun dengan lokasi saya di pastoran Kalvari, Lubang Buaya – dekat dengan Pinang Rantai pool-stasiun bussway dekat Taman Mini itu, saya selalu dapat tempat duduk. Dengan penyejuk udara yang cukup lumayan perjalanan terasa cukup menyenangkan. Demikianlah saya memutuskan, bis TransJakarta ini menjadi sarana efektif pilihan mobilisasi saya di Jakarta.

Pertama karena kecepatannya melibas kemacetan Jakarta, 45 menit dari Pinang Ranti ke Slipi karena melewati jalur khusus yang di awal September itu cukup steril. Kedua karena biayanya murah. Dengan uang RP.3.500,- ditambah angkot Rp.2.000,- atau ojek Rp.10.000,- berarti Rp.11.000,- atau Rp.27.000,- PP (pergi pulang), masih jauh lebih murah ketimbang menggunakan mobil, yang biaya masuk tolnya sudah Rp.18.000,- PP, belum termasuk bensin dan kelelahan sepanjang mengemudikannya. Bahkan dibandingkan dengan motor sekalipun, keuntungan ekonomisnya masih bisa diperbandingkan. Terakhir, sistem bussway ini cukup menghargai pejalan kakpeta-busway-barui, pengguna umumnya bis Transjakarta. Dengan kenyamanan berjalan kaki, saya membayangkan sedikit membakar lemak di perut yang membuncit karena kurang gerak di bandingkan tempat perutusan saya di tanah misi. Saat menyusuri penyeberangan jalan yang dibangun, saya membayangkan sebuah tugas misi baru di tengah kota metropolitan. Menggunakkan bussway saya pikirkan sebagai adaptasi paling tepat memahami perjuangan umat.

(belum selesai)

ber-GELISAH, menularkan dan mentransformasinya…

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Mat 10:34) Demikian sabda Yesus yang bikin murid-muridnya gelisah dan masih banyak lagi sabda lainnya yang lebih membuat gelisah (bdk Yoh 6: 66). Baca deh dialog Yesus usai ditegur ibunya gara-gara keluarga mempelai di Kana kehabisan anggur (Yoh 2: 1-11), kemapanan Yesus dan murid-muridnya – yang sedang menikmati pesta nikah sahabatnya – terusik oleh teguran Maria, “mereka kehabisan anggur.” Jawaban Yesus digambarkan teks asli Injil Yohanes seolah-olah waton mbacot orang yang terlalu banyak minum anggur[i], “mau apa engkau daripadaKu perempuan?”[ii] Untuk saya, Kabar Gembira adalah melulu kisah manusia bertahan gelisah mencari Allah dalam dunia yang mapan dengan keadaan tanpa Allah.


[i] Mungkin Yesus sering hadir dalam pesta-pesta semacam ini dan tentunya bergabung dalam kegembiraan, yang biasanya sesuai tradisi memang berlimpah berbagai hidangan terutama anggur, hingga menimbulkan pergunjingan di antara orang-orang Yahudi (Bdk Mat 11: 19 dan Luk 7: 34). Yesus juga sering membuat perumpamaan tentang perjamuan makan dan pesta yang mungkin menjadi salah satu gaya pendekatan pewartaanNya.

[ii] UBS, The Greek New Testament third corrected edition, 1983 (Yoh 2: 4) Ti emoi kai soi, gunai (gune – gunai = perempuan).

Bantul (5) 

Membuat gelisah

Bulan Pastoral (BULPAS), disebut Rm. Riyo,SJ dalam misa pembukaan[i] diselenggarakan sebagai salah satu kontribusi Yesuit [melalui Pusat Pastoral Yogyakarta] bagi perkembangan para pelayan pastoral dan dalam kotbahnya Mgr. Pujosumarto menjelaskan kesempatan BULPAS sebagai saat mencari makna terus dari warisan pendahulu serta saat menggali seminaverba atau benih sabda dari tradisi kehidupan umat. Sebulan kemudian kata gelisah tercuat, saat saya memberi berkat penutup dalam misa harian (Kamis, 28/07/2011) dua hari sebelum tugas akhir diberikan. Saya katakan, “pergilah dan bergelisahlah, kita diutus!” dan seluruh peserta menjadi gelisah dengan ngomongin hal itu seharian. Bagi saya, membuat gelisah adalah kata yang tepat memaknai seluruh proses ini dan menularkannya adalah harapan dari hakikat BULPAS.

Menarik bahwa Kamus Bahasa Indonesia Online[ii] mengartikan gelisah salah satunya sebagai tidak tenang dalam situasi tidur sementara sebaliknya mapan berarti mantap kedudukannya dan kemapanan diartikan kepuasan dengan diri sendiri. Jadi gelisah, tidak seperti dugaan orang berkonotasi negatif, kalau dipikir-pikir malahan punya makna membuat orang lebih dinamis, mengganggu tidur dan membuat orang tidak duduk tenang-tenang serta ada nuansa terlibat dengan situasi sekitar. Peserta yang gelisah berkomentar, berdebat, berdiskusi dan bertanya menanggapi teman atau pembicara yang presentasikan pendapatnya bukan asyik diam dengan pikiran dan gagasannya sendiri.

Seorang politisi muda yang gelisah bisa melihat korupsi sebagai keris Mpu Gandring[iii] bagi para politisi muda macam Anas dan Nazarudin, yang dulunya termasuk pendobrak generasi orde baru,[iv] demikianlah kiranya bagi para pelayan pastoral muda kemapanan mesti dianggap keris Mpu Gandring yang mengancamnya. Bukankah para imam baru tahbisan biasanya idealis, penuh semangat perubahan, kreatif bereksperimen pastoral dan mengkritisi banyak kebijakan pimpinannya sampai dirinya sendiri mapan dengan gaya yang dianggapnya tepat setelah dipraktek-pastoralkan belasan sampai puluhan tahun kemudian dan seorang pastor baru tahbisan lainnya mengkritiknya kembali.


[i] Senin, 4 Juli 2011, Pk 17.00 WIB, Bulan Pastoral yang bertempat di Biara OMI, Condong Catur, Yogyakarta, dibuka dengan misa konselebrasi Mgr. Pujosumarto, Uskup Agung Semarang didampingi Rm. Riyo Mursanto. SJ, Provinsial SJ dan Rm. Mardi Kartono. SJ, Direktur PPY.

[ii] http://kamusbahasaindonesia.org/gelisah

[iii] Tentang kisah kutukan keris Mpu Gandring lihat tautan http://id.m.wikipedia.org/wiki/Keris_Mpu_Gandring

[iv] http://m.kompas.com/news/read/2011/07/29/02565152/Inikah-Kutukan-Keris-Empu-Gandring

— Saking gelisahnya dengan kasus yang menimpa politisi muda, Budiman Sudjatmiko, anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan memakai istilah “kutukan keris Empu Gandring” untuk menggambarkan kondisi saat ini… “Apakah generasi yang bangkit melawan generasi korup Orde Baru, akan jatuh dengan cara sama, laksana Ken Arok dan kutukan keris Empu Gandring?” tulis Budiman dalam Twitternya, 20 Juli.—

Kenyataan yang kau yakini belum tentu cukup nyata

misa (90) “Nyatanya umat rajin kok ke gereja, berarti mereka suka dong kegiatan di paroki…” demikian jawaban yang bisa dilontarkan seorang pastor tak berbasis data kalau ditanya apakah kegiatan di paroki menjawab kebutuhan umat. Data lebih dari kenyataan, adalah rumusan teratur dari kenyataan-kenyataan. Setidaknya seorang dosen Priyono Marwan, SJ menegaskannya secara berbeda, “data adalah fakta yang tertata.” Masalahnya fakta harus dirumuskan untuk bisa ditata dan itu artinya harus ada kegiatan mengumpulkan macam-macam fakta atau kenyataan yang ada dan harus ada aturan (sistem) bagaimana aneka fakta itu disusun supaya kembali menceritakan kenyataan.

Ibu Erry Seda, sosiolog dan dosen senior Universitas Indonesia mengkritik lemahnya pendataan umat di Keuskupan Agung Jakarta, “Sebuah kota metropolitan, hanya satu paroki saja yang punya data lengkap tentang umatnya, dan itupun paroki di Bekasi, di luar kota Jakarta.” Dari data yang dikumpulkan putri Franz Seda ini, diketahui ada banyak hal yang pantas membuat para pastor sebenarnya tidak bisa lagi mantap duduk atau tidur tenang,[i] jika mengingat aneka masalah sosial terjadi dalam hidup berbangsa, kalau tahu ketidakadilan gender menerpa mayoritas aktifis gereja yaitu perempuan dan andai bisa rasakan banyak tokoh Katolik bekerja dalam kekhawatiran di antara mayoritas muslim yang semakin banyak memunculkan oknum-oknum lebih radikal dan fanatik.

Demikian juga berdasarkan data, kenyataan beratnya kehidupan minoritas Gereja Indonesia di antara teror FPI atau diskriminasi negara dan intimidasi sejumlah muslim tertentu ternyata masih lumayan, menurut Franz Magnis, SJ. Maka pluralitas harus dijaga dengan sadar bahwa kita juga jangan punya klaim tunggal atas kebenaran atau keselamatan orang beragama lain. Misi membaptis semua bangsa menjadi murid Kristus[ii] harus didasarkan pada penghormatan kebenaran agama lain tanpa memaksakan apalagi menakut-nakuti orang agar dibaptis, karena orang bukan beragama Kristen juga mungkin masuk surga. “Pewartaan Injil dan pembaptisan menjadi anggota Gereja tetap menjadi hal penting karena hal itu toh menjadi kegembiraan, yang pantas diperjuangkan.” Tegas Romo Magnis mengakhiri pengajarannya. Jika saat ini pembaca gelisah dan merasa percuma dibaptis jadi Katolik, itu bagus karena iman anda dipertanyakan dalam batin.

Kesulitan berpastoral yang dihadapi semakin kelihatan ketika Mgr. Situmorang, OFMCap, ketua KWI mengatakan belum ada pembicaraan teknis pastoral antar uskup soal keterlibatan Gereja dalam perekonomian sebagai bentuk pelayanan dan pewartaan.[iii] “Saya kira ini satu hal yang cukup menarik untuk dilontarkan dalam bincang-bincang dengan para uskup,” janji Uskup Padang itu. Sebaliknya, kalau bicara teknis pastoral ekologi Rm. Andang SJ gulirkan hal sederhana untuk mulai taruh sampah dan jadikan berkat. “Kata yang digunakan taruh sampah, sehingga jelas harus masukkan di tempat sampah dan bukan sekedar buang,” ujarnya.

Tamasya ke pesantren Pabelan dan berjumpa dengan KH.Najib pimpinannya seperti menjelaskan arti ‘masih lumayan’ yang diungkap Rm. Magnis.[iv] Demikian juga menikmati misa alam berlumpur di stasi Lor Senowo, yang 5 jam lamanya itu, menyadarkan pentingnya data untuk menentukkan bentuk pelayanan pastoral dan bertransformasi, berubah bentuk-fungsi bolak-balik secara fleksibel untuk sungguh mengakarkan iman Katolik dalam kehidupan umat-petani. “Boleh merokok di gereja Gubuk Selo Merapi, karena gedung ini juga dipakai untuk pentas seni masyarakat,” terang RD. Supri, seorang peserta BULPAS yang dulunya turut dalam proses merintis bentuk pastoral di stasi ini. Silahkan para pembaca konservatif gelisah sehingga punya mau untuk mencermati kebijakan ini.


[i] Lihat alinea kedua dalam tajuk ‘Membuat Gelisah’

[ii] Bandingkan Mat 28:19 atau lebih keras lagi Mrk 16: 15-16.

[iii] Silahkan baca blog http://missionsurvivalpapua.wordpress.com

[iv] Silahkan baca tajuk ‘Pabelan Dalam Zaman Ketidaksabaran…’ dalam blog https://enakidabi.wordpress.com

Lor Senowo (165) Menantang nalar, menggelitik tanya, mendebarkan rasa dan gregetan adalah salah satu ciri gelisah. Dengan itu kenyataan tertampak dikritisi kisahnya, dicari tandingan dan kisah lain yang masih tersembunyi, dirumuskan ulang dan disusun kembali untuk jadi kisah yang mendorong kita membuat riak dan ombak dalam telaga tenang kenyataan itu.

Mengakali globalisasi

Francis Wahono (23)

Globalisasi adalah neoliberalisme dalam bentuknya yang paling asli, suatu penjajahan resmi atas sosial, politik, ekonomi dan budaya oleh bangsa maju bagi rakyat dunia ketiga. Gilaaa! rumusan Francis Wahono ini bikin saya gelisah karena saya biasa bangga sebagai aktifis sosial tapi baru tahu kalau globalisasi ternyata seperti itu.[i]

Era ini mengerikan, selembar kertas yang disebut sertifikasi paten bisa mengklaim kepemilikan atas suatu kekayaan tradisi dan nalar. Seperti tempe, yang dipatenkan beberapa usahawan di Jepang, rendang Padang oleh pengusaha kuliner Malaysia, batik Jawa oleh Adidas, Kopi Toraja oleh pengusaha Key Coffee, Jepang dan Kopi Gayo oleh pengusaha Belanda, motif kerajian perak Desak Suwarti, ukiran Jepara dan lainnya hiingga 33 item.[ii] Pastor mapan pasti nggak gelisah, padahal selembar kertas itu mencekik nafkah petani dan pengrajin kecil serta umatnya yang sekedar buruh, padahal sejatinya pemilik dan (seharusnya) penikmat karya intelektual itu. Sekarang petani kopi Toraja tidak bisa ekspor kopi, kecuali lewat Key Coffee Jepang yang empunya merek, sama seperti petani kopi Gayo, yang mereknya dipatenkan pengusaha Belanda. Mestinya para pastor gelisah, karena masalah kepemilikan berkat selembar kertas itu bisa terjadi di manapun juga, khususnya soal tanah, bangunan serta kegiatan yayasan.

Mengakali globalisasi harus pakai dasar ajaran sosial gereja, mulai dari Rerum Novarum sampai Centessimus Annus, paling sedikit hapal deh satu dua pasal yang bisa dijadikan bekal berkarya. Misalnya soal pentingnya solidaritas dasarnya ada pada SRS 39 dan 40, soal pendekatan yang sesuai keadaan masyarakat, renungkan kuliah Purwatmo, Pr memperhatikan kegelisahan uskup-uskup Asia dalam FABC, sambil ingat-ingat lagi dokumen Konsili Vatikan II. Akhirnya memang jadi pastor atau pelayan pastoral di paroki ngga boleh berhenti belajar malahan harus cerdas terbekali terus ilmu-ilmu. Dalam BULPAS persoalan membangun komunitas dikeroyok tiga dosen andalan, Rm. Priyono Marwan,SJ, Rm.Kieser,SJ, Rm. Poerwatmo, Pr dan Rm. Madya,SJ. Artinya membangun komunitas bukan soal sepele, ngumpulin orang lalu bikin kegiatan belaka, ‘yang kakek gue juga bisa’ tapi serius perhatikan jiwanya, solidaritasnya dan kaderisasinya sambil sadar harus tegakkan persaudaraan Kristiani, memberontak terhadap globalisasi.

Ngga main-main nih, kebutaan terhadap globalisasi bisa membuat tokoh-tokoh kunci pastoral malahan jadi antek-antek neolib! Contohnya sudah ada, Uskup Romero mati sendirian ketika uskup-uskup lainnya menikmati pujian dari para penguasa dan pengusaha El Salvador. Pribumi Bomomani, Timeepa, Modio dan lainnya di wilayah Mapia, yang seluas Jabotabek sedikitnya sudah 25 tahun pintar bertani kopi, tapi sampai sekarang masih beli kopi jagung buatan pendatang Bugis-Makasar, secara misionaris dulu pusatkan produksi kopi di pusat misinya. Niat baik saja tidak cukup kawan…


[i] Waktu SMA saya ikut mengajar di bawah kolong jembatan cawang, 1996 menjadi peneliti lepas YAPUSHAM, 1997 tulisan saya Human Rights And Javanese Ethic diterbitkan di Jepang dalam kumpulan buku Human rights in Asian cultures, continuity, and change (hal: 275), 1998 – 1999 aktif dalam Forum Indonesia Muda, ketua FORSOS Yogya 2000 – 2001, mengkritisi ketidakadilan terhadap pegawai paroki awal tahun 2002 dan 2004 -2011 ikut memikirkan perubahan sosial di pedalaman Papua.

[ii] http://endik.seniman.web.id/2009/08/33-warisan-budaya-indonesia-yang-di.html

Transformers

Awalnya Bumblebee berupa sedan tua Chevrolet Camaro, sampai Sam Witwicky mengeluh terus gara-gara mobilnya kurang signifikan untuk menggaet cewek-cewek ABG, walau masih relevan sebagai alat transportasi. Maka berubahlah rongsokan itu menjadi all new Camaro Sport Car. Tapi mobil-mobil itu hanya penampakan umum untuk bisa membaur di antara manusia yang doyan mobil keren. Saat situasi kritis, atau saat komunikasi internal membutuhkan atau saat situasi lain diperlukan, mobil-mobil itu berubah wujud menjadi robot tempur, yang dahsyat dengan segala kecanggihan untuk mengatasi aneka masalah. Saya nonton film Transformer supaya bisa belajar bagaimana transformasi itu terjadi.

P7040005

Rupanya, transformasi bukan sekedar berubah lebih mumpuni menghadapi situasi baru, pastoral transformatif agaknya suatu kelenturan untuk berubah suai wujud bolak-balik menghadapi situasi umat, yang lapangan dan karakternya berbeda-beda dan dinamis. Selama menjalani tugas misi di pedalaman Papua, saya rasanya terus bersuai wujud. Satu kali jadi pedagang, kesempatan lain sopir mobil angkot, lalu jadi tukang tahu, sekali-kali jadi petani sayur dan kopi, lain waktu jadi pendaki gunung untuk kemudian menjelma jadi pelayan sakramen tapi tetap bisa tampil keren sebagai pastor di antara umat Jakarta.

Apakah lalu saya bisa terus merubahwujudkan pastoral saya di Jakarta? Pengalaman hidup yang terlempar-lempar dalam aneka model kehidupan, mungkin bisa jadi kebiasaan kuat bertransformasi, tetapi dari keterlibatan selama BULPAS saya sadar hal itu tidak gampang. Menularkan kegelisahan di antara orang-orang bukan perkara sulit, karena keberadaan saya sepertinya suatu pembuat gelisah namun mentransformasi gelisah menjadi suatu solidaritas kemurahan hati berpengaruh luas hingga terus menerus me-makin-kan beriman, bersaudara dan melayani perlu ketekunan dan kerja keras cerdas.

Karakter kepemimpinan saya yang terukur bergaya partisipatif dengan kemampuan adaptasi cukup tinggi bisa jadi kekuatan, kesempatan dan potensi mengungguli kelemahan dan tantangan di medan pastoral baru di Jakarta. “ Gaya dominan anda tetap harus digunakan sesuai kondisi di lapangan, jangan pakai gaya partisipatif ketika menjadi guru dan umatmu masih harus diajar pengetahuan baru, tidak tepat mengajar tanpa bergaya telling atau selling,” kira-kira begitu terang Rm. Madya, SJ. Dari pendampingan Rm. Madya, SJ tersebut, saya tersentak gelisah karena rating informasi saya masih cukup rendah yang kalau saya terjemahkan lebih ‘sok tahu’ dari pada ‘sungguh tahu’. Sisi pengetahuan ini yang menjadi tantangan untuk dikembangkan duluan saat mulai berpastoral dan ini tentu bersambung dengan pastoral berbasis data.

kalung projak

Mencitrakan diri sebagai gembala baik, hamba uskup yang sedia diutus ke mana saja, saya sadari harus juga tersedia dalam perutusan apapun, sambil menghayati beban karakter projo Jakarta yang hangat, bisa di-andal-kan, misioner, bahagia dan siap andil terlibat dalam ragam keprihatinan umat melampaui semata ditugaskan. Rencana aksi usai BULPAS ini sederhana, pertama-tama membiasakan diri membuat catatan kronik gerakan saya di Paroki Kalvari. Lalu dalam satu bulan pertama, saya akan berkenalan dan mencoba akrab dengan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh muslim yang berpengaruh. Mengunjungi aktifis paroki dalam tiga bulan pertama tugas saya sekaligus mengenal daerah-daerah cakupan tugas saya dan membuat peta sosio-geographis. Bersama dengan rekan imam muda merumuskan kembali modul kaderisasi orang muda dalam jaringan. Sementara terkait program kerja paroki, yang saya kira saat ini dalam proses pendataan dan penentuan visi/misi tentunya tepat jika kegelisahan selama BULPAS ditularkan agar ada Roh Allah menggeser kemapanan cara pandang masing-masing.

Semoga segala rencana baik direstui Allah dan namaNya dimuliakan dalam setiap hati manusia. Tuhan besertaku, aku tidak takut apakah yang dapat dilakukan manusia terhadapku?!

Bantul Di Tapal Batas Kesejukan…

Sawah-sawah indah itu sudah semakin terhalang rumah-rumah, yang baru saja dibangun usai gempa meluluhkan wilayah ini selustrum lalu. Sepertinya gelora kepahlawanan: gugur satu tumbuh seribu, hunian baru menyerbu kehijauan subur dusun Bayuran, Manding – Bantul.

Banyak petani padi di wilayah ini sedang bimbang dengan tawaran beralih ke pertanian organik, dipelopori Romo Utomo Pr yang kata-katanya banyak dikenang pemuda penggerak mitra usaha tani, Mas Eko namanya. “Romo Utomo berkata pangan yang paling baik adalah yang asli ciptaan Tuhan, ditanam dengan cara alami, dipelihara secara alami dan dipanen secara alami…” kenang Eko, “betul tapi dengan tanah yang sudah terlanjur diberi pupuk kimia, proses menjadi 100% organik harus perlahan-lahan, saya hanya bisa jamin produk saya sayuran sehat, tidak pakai pestisida kimia tapi masih mencampur pupuk alam dengan pupuk buatan.” Penggunaan metode organik 100% akan menurunkan produktifitas hasil yang langsung merugikan para petani. Suatu pilihan pertanian organik kiranya memang harus melalui proses pertobatan yang panjang.

Bantul (65)

Berbeda dengan anjuran Tim HPS, Mas Eko membangun kemitraan para petani dengan sistem kontrak pra penanaman. Sarjana pertanian yang bangga disebut petani ini memang agrobisnisman muda yang gesit melihat peluang.  Bantul (89)Daripada menanam padi hibrida yang umum di pasaran, Mas Eko memilih membagi bibit padi lokal yang sudah jarang ditanam: mentik dan padi nyaur-utang peninggalan Majapahit yang terkenal enak serta padi hitam khusus untuk orang Jakarta yang takut tambah manis karena dijajah diabetes.  Karena itulah para petani yang terrangkul dalam program kemitraannya mendapat keuntungan lebih. Mereka mendapat bibit gratis, jaminan harga per satuan bobot panen melalui kontrak tertulis, pendampingan selama proses tanam dan jaminan pembelian hasil panen sesuai kontrak serta tentu saja pengalaman menanam aneka benih yang langka dan unik.

Selain padi, Mas Eko juga mengembangkan sayur dan buah-buahan unik, melon merah, cabe besar pedas dan sebagainya, “pokoknya produk yang jarang ditanam agar harganya memang sungguh menarik petani,” ujarnya menjelaskan. Meski terbilang sukses, dia mengakui ada kesulitan dalam pendampingan karena para petani mitranya merasa lebih tahu karena praktek di lapangan ketimbang dirinya yang belajar di UNAS Yogya. “Aku luwih sue dolanan lemah kok,” Mas Eko meniru komentar petani. Walaupun dia berpengalaman memuliakan tanaman tetap saja dianggap anak ingusan.

“Prinsip saya mengikat kemitraan adalah kejujuran, jika saat panen nanti ada kenaikan harga produk di pasar, saya akan berbagi selisih kenaikan itu pada petani mitra saya walaupun mereka tidak tahu bahwa ada kenaikan harga di pasar Jakarta misalnya. Saya tidak mau membohongi dan membodohi petani hanya karena mereka tidak punya akses internet dan kesempatan berjualan di tempat yang lebih baik, karena saya juga petani, KTP saya petani, pekerjaan saya petani…” Mas Eko menjelaskan kiatnya menjaga kesetiaan para petani dalam kemitraannya. Bagaimanapun, uang adalah hal penting dalam program apapun untuk pemberdayaan para petani. Jika kemitraan Donatius Ekosiwi Pramono ternyata dilihat menguntungkan para petani dalam kemitraannya, mungkin  aneka gerakan lain perlu belajar darinya dan mengembangkan situasi yang dipikirkan lebih mensejahterakan semua pihak sambil tetap mampu bersaing di kancah pasar.

Bantul (108) Pertanian Bantul adalah pertaruhan masa depan wilayah ini. Kebanyakan kios kerajinan kulit di Manding sudah bukan lagi hasil kerajinan warga setempat melainkan loperan dari Garut, Bandung dan Surabaya. Jika sawah dan kebun di kawasan ini semakin tergusur rumah-rumah, maka kesejukkan itu memang akan sungguh hilang…

Informasi lanjut silahkan hubungi:

ekosiwipramono@yahoo.com

secundina.ariasti@yahoo.com

 

‘So what gitu loh…’

Romo Rohadi, Maestro Batin…

Sebatang rokok filter lokal saya berikan padanya, lalu saya lihat rokok itu diusap-usap olehnya dan sejenak ia menunduk serius menatap rokok itu yang kini dipegang berdiri pada ujung filternya. Kemudian Romo Rohadi  memberikan rokok itu kembali pada saya, “Ini coba rasakan…” katanya dan saya terkejut karena rokok itu tidak lagi bercita rasa seperti biasanya, ada rasa kemenyan dan mentol menyeruak dari situ seperti rokok klobot menyan.

MBITORO 6OKT

Mencipta dari ketiadaan…

“Manusia itu diciptakan secitra dengan Allah, maka kalau Allah punya daya cipta tentunya manusia juga punya daya cipta,” ujar Rm. Rohadi. Para mpu pembuat keris adalah maestro, sama seperti Mozart dan Bethoven adalah maestro. “Seorang maestro bisa menanamkan daya cipta dalam karyanya, jika Mozart menciptakan lagu penuh semangat, orang yang mendengarnya juga tergerak dalam gairah itu demikian juga jika Bethoven mencipta lagu riang, para pendengar juga bergembira.” Jelasnya menerangkan perubahan rasa rokok kretek filter menjadi rokok klobot menyan. 

Rm. Rohadi pernah terkenal sebagai pengumpul keris. Bukan artinya dia mengoleksi keris-keris itu, tetapi dia ‘menjinakkan’ keris yang seringkali membuat pemiliknya tidak nyaman. Sebagian besar keris itu diberikan ke Taman Mini untuk disimpan dan dipamerkan sementara beberapa keris memang disimpannya. Seorang ibu dari suatu persekutuan doa berkata pada saya agar ingatkan Rm. Rohadi agar jangan menyentuh lagi keris-keris tersebut karena keris adalah alat kegelapan. Saya ingat, setelah saya sampaikan komentar ibu itu  Rm. Rohadi berkata keris adalah hasil budaya manusia, benda seni yang tinggi nilainya dan tidak mungkin benda yang bernilai seni dan keindahan sejak semula diciptakan sebagai alat kegelapan. “Manusia sendirilah yang membuatnya jadi alat kegelapan atau tegasnya, pikiran ibu itu yang membuat keris menjadi alat kegelapan karena ibu itu selalu dikelilingi kegelapan mungkin?!”

Saya senang dengan ajaran bijak Rm. Rohadi, seorang mpu yang seorang maestro keris, seperti Mozart dan Bethoven, mampu menanamkan daya cipta yang bisa menggugah emosi penggunanya. Daya cipta ini seringkali tidak bisa dipahami pewaris keris dan mungkin emosi yang dirasakan juga tidak disukai sama halnya kebanyakan anak muda zaman sekarang akan lebih suka lagu-lagu pop ringan grup Dewa, Gigi, Slank dan sejenisnya ketimbang musik-musik klasik seperti Mozart. Jika hal-hal  seni seperti keris, tombak, tari bali, kuda lumping dan budaya semacamnya dipahami melulu berbau setan atau kuasa kegelapan, orang bisa lupa bahwa kegelapan lebih sering menggunakan uang, harta dan kenyamanan lainnya sebagai alat utama karyanya.

“Kebanyakan orang sakit karena daya cipta negatif dari dirinya sendiri yang membuatnya sakit, karena ketakutan dan kekhawatirannya sendiri lalu datang pada saya menyalahkan kuasa gelap atau prasangka buruk pada orang lain sebagai penyebab sakitnya… Akhirnya dia tambah sakit karena menuduh tanpa kenyataan.” kata Rm. Rohadi. Rupanya tanpa disangka, kesedihan berlebih membuat dia sakit paru-paru, kecemasan dan stress melemahkan lambung dan organ perut lainnya, dendam dan kemarahan membuat liver mudah terinfeksi hepatitis dan seterusnya. Romo Rohadi menyembuhkan dengan memberikan ketenangan dan kesejukan batin bagi orang-orang tersebut. Bukankah dimana ada kasih dan cinta, Allah hadir? Bila Allah hadir, tentunya daya ciptaNya akan memulihkan kesempurnaan manusia yang tubuhnya dilemahkan itu. Jika pemahaman ini salah, ‘so what gitu loh…’ kenyataannya orang itu sembuh.

Daya cipta Allah yang dibangkitkan dalam manusia citraNya ini menular. Banyak orang yang telah disembuhkan dari sakit kemudian tergerak untuk mendoakan sesamanya yang lain, menanamkan daya cipta cinta Allah dalam diri orang yang masih sakit dan mengubah situasi negatif dirinya. Beberapa orang membantu Rm, Rohadi dalam komunitas berkat, “orang yang mendapat berkat akan tergerak untuk memberkati orang lain,” sekali lagi ia menjelaskan.

Komunitas berkat…

Lagu-lagu misa berkat itu tidak banyak variasi, hampir selalu sama setelah bertahun-tahun. Orang-orang yang terlibat aktif juga tidak banyak berubah, hampir semuanya orang-orang yang sama setelah bertahun-tahun. Suasananya juga tidak semakin mewah setelah bertahun-tahun. Demikian juga keakraban yang terjadi tidak berubah, semua terjadi dalam keguyuban yang sama setelah bertahun-tahun.

Bagi saya, tidak adanya perkembangan dan tidak adanya kemunduran berarti suatu kemantapan komunitas ini dalam kerendahan hati selama Rm. Rohadi mendampingi. Saya sering mendengar bagaimana komunitas berkat diundang oleh Rm. Rohadi untuk berkunjung ke tetirahan Puri Brata, di sana mereka ikut berbagi berkat bagi sesama di Ganjuran, Yogya. Bahkan dalam suasana membangun gereja di Paroki Pejompongan, Rm. Rohadi masih senantiasa mengajarkan umat paroki dan komunitasnya untuk tetap terbuka membantu orang-orang lain, paroki lain termasuk mengunjungi saya di tempat terpencil di Papua.

Menilai komunitas berkat, pasti bukan wewenang saya dan pasti saya tidak akan punya kompetensi untuk itu. Tapi saya bisa berkomentar tentang komunitas berkat. Bahwa komunitas ini berpusat pada Rm, Rohadi, saya kira semua orang bisa melihat itu. Bahwa komunitas ini akan bubar setelah Rm. Rohadi tidak bisa dampingi lagi, saya akan jawab ‘so what gitu loh…’ Menurut saya memang menyenangkan jika komunitas yang banyak mengerjakan berkat ini terus tumbuh dalam keabadian seperti berkat Allah itu sendiri abadi akan tetapi bukan suatu masalah besar sebuah komunitas muncul dan berakhir hanya selama tokohnya hidup dan selama keberadaannya itu juga mengerjakan berkat Allah bagi sesama. Komentar ini bisa menjadi pilihan untuk dipikirkan bagi siapapun yang bersinggungan dengan komunitas ini, sama juga pilihan untuk mengabaikan pikiran susah tentang kelanjutannya tetapi makin terlibat dalam kebaikan kegiatannya.

Iman yang menyembuhkan

Saya pernah ikut dalam pelayanan doa Rm. Rohadi. Bersamanya dan beberapa imam lain kami berdiri di depan altar, menumpangkan tangan dan saya menyaksikan umat yang terjamah jatuh beristirahat dalam kedamaian batin. Dalam pelayanan doa yang pertama kali saya ikut itu, pada tiap orang saya berdoa serius, mengalirkan tenaga dalam kedua telapak yang terjulur sambil mengatur napas.Tidak lama, saya mulai merasa pusing dan ketika serasa hendak pingsan saya masuk sakristi dengan ngos-ngosan dan jantung berdebar. Usai acara, sambil tertawa Rm. Rohadi mengusap-usap punggung saya dan berkata: “kalau berdoa jangan pakai tenaga sendiri, nanti cepet tua romo…”

Rupanya Rm. Rohadi mengetahui saya praktekan olah pernapasan dalam doa, karena saya pikir harus demikian. Darinya, saya belajar untuk beriman daripada sekedar berdoa. Doa dan puasa, yang selama ini sering dipikirkan sebagai hal penting dalam hidup beragama ternyata baru mengantar orang dalam iman kepada Kristus. Hubungan dengan Allah mesti sampai dalam penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah. “Saya hanya doakan orang-orang yang datang pada saya, menguatkan mereka dalam iman, soal kesembuhan dan hidup adalah masalah Tuhan.” Ujarnya meneguhkan saya yang baru saja tahbisan itu.

Pelayanan doa bagi orang sakit ini bukan kerja yang ringan. Saya beberapa kali ikut dan tidak tahan kantuk menemaninya berkeliling rumah sakit meneguhkan umat yang merintih dan beberapa sekarat, sering kali hingga menjelang pagi. Saya mengagumi kesabaran dan optimis Rm. Rohadi dalam doa dan penyerahan diri pada Allah ketika saya merasa tahu kematiannya tak terhindarkan. Setiap selesai pelayanan doa, saya tahu Rm. Rohadi sangat kelelahan, padahal ia masih harus melayani kebutuhan paroki. Tentu hal ini butuh pengaturan waktu yang ketat. Seperti pesan dari film Spiderman, with great power comes great responsibility. (bersama kemampuan yang besar datang tanggung jawab yang besar)

Pelajaran berdoa ini segera saya praktekkan, seorang putri warga Kedoya Garden menderita ostheo scheleosis dan kakinya panjang sebelah sekitar 5 cm. Saya telpon Rm. Rohadi, bertanya apa yang harus saya lakukan dan segera dia menjawab, “doakan saja Bapa Kami sambil bayangkan Kemuliaan Allah.” Saya pegang kedua kaki terjulur itu, saya berdoa seperti diajarkan dan menakjubkan bahwa kakinya seperti karet mulai memanjang ketika saya perlahan tarik. “Kepanjangan romo,” seru saudarinya membangunkan saya dari ketakjuban dan saya dorong kembali dengan mudahnya sambil terus membatin doa kemuliaan dalam debaran jantung. Peristiwa ini umurnya panjang di batin saya hingga akhirnya sangat membantu saya dalam tugas perutusan di pedalaman Papua yang minim obat, tenaga kesehatan apalagi dokter. Orang-orang sakit datang pada pastor karena mereka lebih percaya pastor daripada dokter dan saya praktekan iman itu. Saya berdoa untuk mereka, dalam kepasrahan dan cinta menyerahkan umat yang sakit itu dalam perlindungan Allah.

Guru, Romo dan Sahabat…

Saya bangga berteman dengan Rm. Rohadi, dia menjadi guru saya dalam menyempurnakan doa hingga mewujud dalam iman akan kemurahan hati Allah. Mengobrak-abrik silogisme fisika empiris saya dengan kenyataan quantum di depan mata banyak orang. Dia juga seorang Romo bagi saya yang baru sembilan tahun jadi imam ini. Menurut saya, Romo ini tidak mengambil jalan yang mudah dalam imamatnya; dia mau direpotkan oleh orang lain karena hatinya dibukanya lebar-lebar untuk mendengar kesusahan. Bukankah ini suatu perwujudan iman, ketika seorang menjadi gelisah, cemas dan tidak sabar melihat kesusahan orang lain? Menggeliat bersama umat.

Pelayanan doa di BomomaniDengan ‘keagungannya’ itu, saya tersanjung bahwa dia menjadi sahabat yang baik. Oktober 2010, Rm. Rohadi mengunjungi paroki saya di pedalaman gunung Papua, mengajak rekan-rekan imam dan artis-artis ibukota untuk merayakan liturgi ekaristi yang indah bagi umat yang minim sandang itu. Dia senang direpotkan oleh saya dan itu sangat mengharukan. Pancaran berkat kesejukan rombongannya membuat umat saya makin menggeliat hingga benarlah kenyataan ini, berkat itu menular.

Selamat pesta perak imamat untuk Rm. Rohadi dan Rm. Purbo. Kesetiaan para romo dalam imamat meneguhkan saya, ketenangan para romo membakar saya dan membuat saya belajar sabar untuk mau direpotkan juga. Saya tidak melihat cela para romo dan sekiranya ada, so what gitu loh… (Fe Enakidabi)

Pabelan dalam zaman ketidaksabaran…

Pesantren (135)“Budaya instan adalah hilangnya kesabaran menuruti suatu proses,” ujar KH. Najib pemimpin pesantren Pabelan, Muntilan. Dengan 600 santri tingkat SMP dan SMA, pesantren Pabelan hendak mengajarkan pluralitas sebagai penghargaan terhadap sesama manusia sebagai saudara dalam kesabaran dan ketekunan.  "Saat surat menjadi alat komunikasi dominan, orang sabar menuruti proses: saat butuh uang si santri menulis surat pada orang tua, berlembar-lembar kertas yang terkadang butuh beberapa hari sebelum dibawa ke kantor pos. Di kantor pos, terjadi lagi proses pengantaran yang secepat-cepatnya butuh 4 hari. Tiba di alamat, orang tua melihat surat dari anaknya, ada sukacita dan haru menjadi satu. Beberapa ibu mungkin memeluk dulu surat itu di dadanya, mengucap syukur pada Allah baru membacanya dalam linangan air mata. Setiap kata dicermati dan dibaca berulang-ulang hingga sedikit hapal sampai ditemukan si anak butuh uang. Lalu, secepatnya sehari kemudian, dikirimlah uang itu, lewat wesel pos yang sekali lagi butuh beberapa hari sebelum tiba di tangan si santri.” KH. Najib melanjutkan, “Sekarang ini, teknologi telepon bahkan sms meredusir makna dan rasa dari kata-kata. Begitu cepatnya tulisan atau kata itu bertukar tempat sehingga tidak ada lagi perasaan, tidak ada sabar dan tidak ada lagi syukur. Seorang santri yang butuh uang telpon orang tuanya: ‘Pak besok saya libur, butuh uang Rp.200.000,- tolong transfer via atm nanti saya ambil di Magelang, ingat ya Pak… awas kalo lupa…” demikian keluh pak Kiai. “Seolah-olah saat ini, syukur, hormat dan sabar tidak ada tempat dalam budaya instan.”

Pesantren (93)

Pesantren ini menyadari dunia yang berubah harus dihadapi dengan pengetahuan. Demikianlah tata ruang pesantren diatur untuk menghantar orang menemukan makna itu. Di sebelah timur, di pintu masuk ada perpustakaan sebagai simbol ilmu pengetahuan, disusul kelas-kelas. Lebih ke barat ada mesjid yang ingatkan santri orientasi hidup harus mengarah kepada Allah. “Di ujung paling barat ada makam, untuk ingatkan santri bahwa tujuan akhir manusia adalah kembali kepada Allah.” Pak Kiai menjelaskan.

Pesantren (175) Di tengah arus radikalisme semu dunia agama, Pesantren Pabelan menetapkan hati menjaga kemurnian iman dengan terus menegaskan perkembangan pendidikan. Bukan sekedar belajar formal, ketrampilan bertukang dan fotografi ditawarkan kepada para santri. “Kami tidak hanya menerima murid yang pintar, pendidikan yang baik ‘kan semestinya tidak sekedar menerima murid pintar tapi bagaimana anak-anak yang kurang pintar diterima dan bisa lebih cerdas dalaPesantren (183)m menjalani kehidupannya.” seloroh KH. Najib seperti menohok keunggulan pendidikan sekolah-sekolah Katolik, yang sering berlomba menjaring anak-anak cerdas saja sekedar memudahkan proses didik.  Dari relung-relung iman, pesantren ini telah menegaskan pendiriannya, memberanikan diri menjadi lembaga pendidikan untuk kaum marginal dengan segala resikonya. Beranikah kita?

Jangan tuntut lunasi belis…

Demikian ujar Dr. Francisia Ery Seda dalam salah satu seminar di Bulan Pastoral bagi para pastor, pendeta dan suster dari seluruh Indonesia, mulai malam Jumat, 7/7/2011. Hingga berakhir ceramahnya keesokkan sore, total 12 jam beliau bicara tanpa kehabisan energi walau sempat terlambat karena kereta yang dipercaya dan dinikmatinya persis terlambat 2 jam seperti lagu Iwan Fals… Rupanya rasa tak aman naik pesawat menuntunnya membuat pilihan yang tepat baginya naik kereta, “Keretanya bagus, bersih, kursi juga nyaman dan pemandangan indah sungguh pantas dinikmati tapi memang membuat saya terlambat datang memberi seminar karena saya tunggu kereta hingga dua jam molor dari jadwal seharusnya…” komentarnya.

IMG_7283

Saya kira tepat kalau kejadian kereta terlambat ini betul bukan kebetulan karena kebetulan, jika anda masih yakin hal itu ada, Ibu Ery Seda ini bicara kegagalan pemerintah mengelola republik tercinta ini. Sebagaiman Iwan Fals menggugat dengan lagu, yang tak bosan kita dengar, demikian semangat yang terpancar dari seorang perempuan Ery Seda menyadarkan beberapa hal yang ringkasnya begini:

Kompleksitas horisontal dan vertikal dalam negara kita tidak dibenahi secara serius dan digunakan oleh penguasa sesuai politik konspirasi penjajah, devide et impera. Senyatanya, sistem pemerintahan kita juga bukanlah sebuah sistem baru tapi sekedar melanjutkan sistem yang dulu penjajah Belanda gunakan.

Lagipula revolusi kemerdakan kita juga bukanlah suatu revolusi sosial melainkan revolusi elitis. Revolusi sosial selalu ditandai dengan rezim cleansing, seperti revolusi Perancis dan revolusi Bolshevik yang memunahkan kaum bangsawan di Perancis dan Rusia. Jika G30S PKI berhasil, mungkin itu bisa jadi revolusi sosial tapi yah belum tentu juga sih… Pendek kata revolusi elitis akan menghasilkan komposisi pejabat pemerintahan 4L, ‘Lo Lagiii… Lo Lagi’

Kurang data dan manipulasi fakta adalah ciri pemerintah Indonesia, nah sayangnya itu terjadi juga ketika pastor paroki malas membuat pendataan umat. Gereja jadi tidak tahu apa yang sebetulnya dibutuhkan umat. Jadi buat pendataan yang baiklah. (Mendingan jaman kita kan dah pake laptop dan tablet, pendataan bisa instan juga… kebayang ngga kalo musti bawa mesin tik peninggalan pastor Van Hoten ke cafe-cafe untuk ngobrol dengan sie-data paroki, seorang pemuda modern, yang mencari wifi gratis di situ untuk bercengkrama dengan komunitas maya yang luas itu?)

Masalah ketidaksetaraan gender masih belum menjadi masalah bagi banyak orang, termasuk Gereja. Idealnya, tidak ada lagi keterangan agama dalam KTP dan tidak perlu lagi kementrian pemberdayaan wanita. Khusus untuk Flores, saat seorang laki-laki dituntut mas kawin – belis tinggi yang tidak rasional, haruslah orang tua perempuan menghindari tuntutan lunasi belis. Jangan buat situasi perempuan menjadi barang yang terbeli dengan pelunasan belis.

Bulan Pastoral, sabda Rm. Magnis…

IMG_7266 Tentang Pluralisme

Iman Kristen jelas: Allah menyatakan diri dalam manusia, orang Yahudi, Yesus yang lahir dan meninggal dihukum mati serta diyakini dibangkitkan sekitar 2000 tahun lalu di Palestina. Dengan memandang Yesus, kita tahu siapa itu Allah. Kita bersatu dengan Yesus apabila kita hidup menurut Injil.

Tetapi: tidak berarti Roh Allah tidak bekerja diluar umat mereka yang dibaptis. Roh itu – yang juga Roh Yesus Kristus – berusaha membuka hati semua orang pada semangat Yesus, yaitu semangat Injil. Dimana-mana buah-buah Roh bisa ada… jelas bahwa umat Allah di dunia jauh lebih luas daripada anggota Gereja… siapapun yang hidup dengan taat pada hati nurani sudah membuka diri terhadap Allah dan mengikuti Allah, dengan kata lain ia percaya.

IMG_7265

Tentang misi

Gereja Katolik mengajar: semua diselamatkan karena dan dalam Yesus Kristus.

Memang orang yang tidak dibaptis pun dapat masuk surga, demikian juga tidak bisa diingkari, adanya baptisan dalam Gereja adalah suatu kegembiraan yang pantas diperjuangkan.

pemahaman saya sebagai pengguna BB

Sekarang ini tidak bisa kita katakan satu-satunya alat komunikasi adalah telepon genggam. Terlebih-lebih, tidak bisa mengatakan HP terbaik adalah Blackberry, walau HP saya memang BB! Karena jelas banyak HP nokia, samsung, HP android aneka merk bersaing dengan berbagai aplikasinya menyerupai BB. Tapi bukankah menyenangkan jika semua teman kita punya BB, supaya kita dapat sapa mereka secara praktis dengan BBM, bisa berdialog seru dalam grup BB. Bukankah kita juga membujuk orang-orang terdekat kita sedapat mungkin beli BB dan seperti sales HP memaparkan keunggulan BB. Nah itulah, agama anda – apapun itu – adalah BB bagi anda. (enakidabi)

Bulan Pastoral, awalnya…

5 Juli 2011 (122)

RD. Budi Prayitno menemukan kenangan dalam sebuah foto kapal yang sedang merapat di pelabuhan. “melihat daratan adalah kegembiraan bagi para pelaut,” ujarnya yang mensharingkan suka duka pengalamannya sebagai pastor para pelaut. Sebuah senandung seperti terdengar sayup-sayup, ‘siapa bilang pelaut mata keranjang…’

5 Juli 2011 (156)

“Tinggal seundak lagi dan anak ini akan mendapatkan ‘degan’ yang diincarnya, demikian perutusanku memaksa aku meninggalkan impian memperjuangkan kemandirian paroki dan merelakan ‘degan’ itu dinikmati Rm. Jati,” ujar Romo Bowo, yang dalam bulan pastoral ini ‘kebetulan’ merayakan 13 tahun imamatnya.

5 Juli 2011 (69)

 

Betul tidak ada kebetulan, dan foto seorang anak Papua menatap pesamat misi mendarat ini memilih saya untuk mengenang kembali keindahan karya Allah di antara umat Bomomani, Mapia. Dalam kehampaan itu keberadaanku berarti hingga saya hadir sebagai enakidabi.

RENTANG EMAS SAYAP-SAYAP MISI

Dirgahayu 50 th AMA di tanah Papua

(Pernah dimuat dalam majalah HIDUP)

“Terbang di atas pegunungan Jayawijaya dengan sebuah pesawat misi rasanya sungguh mengecilkan manusia berhadapan dengan kemegahan alam ciptaan Allah… namun di lain pihak sadar dengan akal budinya, manusia akhirnya mampu menjelajah angkasa dan menguasai jarak hingga dunialah yang terasa mengecil,” cuplikan homili uskup Jayapura: Mgr.Leo Laba Ladjar, OFM selebran utama misa syukur 50 tahun penerbangan misi, Association Mission Aviation (AMA) di Sentani hari Senin, 27 April 2009.

clip_image002

Allah masih menjadi jaminan

Acara pesta emas penerbangan misi dimulai dengan misa konselebrasi meriah oleh 5 uskup, pemilik dari AMA, beserta tiga puluhan imam yang umumnya dari Keuskupan Jayapura. Dalam homilinya, selebran utama, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM mengingatkan kehadiran AMA untuk pelayanan misi dan menjaga keutuhan ciptaan sebagaimana pada tanggal 23 Maret 1959, karya penerbangan ini telah dirintis para misionaris fransiskan menjawab tantangan misi di Papua. “walupun manusia zaman ini mulai menanggalkan pesona illahi sehingga gunung hanya dilihat berapa banyak emas di dalamnya, hutan-hutan hanya dinilai dari berapa dolar yang akan dihasilkan kayunya tapi hari ini kita rayakan bagaimana jari Allah memudahkan karya misi kita,” ujarnya.

Dalam misa pesta emas di home base AMA di Sentani ini, para uskup juga memberkati hanggar baru dan sebuah pesawat baru, PAC 750 XL. Acara ini memang menunjukkan keunggulan AMA, dengan masuknya banyak unsur inkulturasi budaya dalam misa, diperlihatkan bagaimana karya misi penerbangan memperkenalkan orang papua melihat dunia dan sebaliknya. Sambutan tertulis dari gubernur Papua dan acara joy ride dengan pesawat baru jelas-jelas menunjukkan pengaruh AMA bagi perkembangan masyarakat Papua. Pesawat-pesawat AMA membawa banyak murid dari pedalaman masuk dalam pusat-pusat pendidikan misi dan akhirnya menjadi kader-kader pendidikan, pemerintahan dan pembangunan di Papua. Untuk pelayananan macam itu AMA memang selalu menjadi operator pertama pesawat berkemampuan khusus, seperti PAC 75 XL, yang bisa lepas landas dari lapangan perintis yang pendek (STOL, Short Take Off and Landing).

Beratnya medan pegunungan tinggi di Papua menyebabkan banyak kecelakaan yang merenggut nyawa para pilot dan misionaris dalam penerbangan menuju tempat tugas mereka. Suasana haru menyelimuti hampir di setiap bagian acara pesta ini saat hening mengenang pengorbanan jiwa para pilot dan misionaris. Walau banyak kecelakaan, umumnya pesawat AMA tidak diasuransikan, badan pengurus mengelola sendiri dana asuransi masing-masing pesawat. Sehingga makin tepatlah keyakinan yang disampaikan sang Uskup: “Allah masih menjadi jaminan kehidupan dan karya kita!”

AMA harus mensubsidi penerbangan misi dengan bisnis penerbangan

Berbekal tujuh pesawat, AMA saat ini melayani transportasi udara yang harus dilakukan oleh misi untuk menjangkau wilayah pastoral yang sebagian besar tersebar di pedalaman gunung dan pantai Papua. Lima keuskupan di papua sangat terbantu dengan penerbangan misi yang diperjuangkan terutama oleh P. Cremers, OFM. Semenjak berhentinya subsidi luar negeri untuk karya penerbangan misi, kini AMA harus masuk dalam dunia bisnis penerbangan guna mensubsidi biaya transportasi udara yang harus dilakukan misi domestik kelima keuskupan di Papua.

Sebagai penerbangan misi, AMA tidak hanya menyediakan pesawat dan pilot. “Mungkin AMA satu-satunya maskapai penerbangan yang demi pelayanan penerbangannya telah membangun banyak landasan perintis,” komentar Mgr. Datus Lega, Uskup Sorong. Hingga sekarang, AMA bersama dengan lembaga misi dan umat telah membangun sekitar 400 lapangan terbang perintis. Tidak cukup dengan adanya lapangan terbang, di setiap pos tersebut harus ada satu unit radio ssb dengan operator lapangan untuk mengetahui kondisi cuaca, menjaga keamanan pendaratan dan bongkar muat pesawat. “Banyak wilayah dimana runway dibangun AMA telah menjadi maju dan berkembang, sekarang pemerintah mengambil alih runway dan mengembangkannya menjadi bandar udara perintis tanpa ganti rugi atau sedikitnya izin dari Gereja.” Lanjut Mgr. John Philip, Uskup Timika sekaligus ketua badan pengurus AMA. Bandara Ayewasi dan Merdey di Sorong serta bandara di Moanemani, ibu kota kabupaten Dogiyai dan juga bandara di Bilogai, Paniai adalah contoh daerah yang berkembang karena menjadi pusat misi Katolik berkat adanya bandara dan penerbangan yang dirintis AMA.

Melihat pemerintah kini mengambil alih banyak bandara perintis tersebut, para uskup tidak merasa keberatan walau tanpa ganti rugi atau ‘pamit’ pada Gereja yang susah payah membangunnya, “Yang penting, pemerintah memelihara dan mengembangkannya untuk pelayanan masyarakat itu sudah cukup bagi kami,” serius Mgr John menutup komentarnya. Sangat diharapkan, sejak AMA juga terjun dalam bisnis penerbangan, pemerintah memanfaatkan jasa AMA untuk melayani rute-rute penerbangan ke daerah pedalaman daripada mengikat perjanjian dengan perusahaan penerbangan lain yang murni menarik keuntungan dan nyata-nyata masih harus mendarat di lapangan terbang yang dibangun oleh AMA dan misi Gereja Katolik.

Harus tambah armada

Menjelang acara ulang tahun AMA, menggunakan pesawat baru, badan pengurus berkeliling wilayah kabupaten Merauke melihat kemungkinan membuka rute baru di wilayah selatan. Mgr. Nico MSC, Uskup Agung Merauke menyambut positif safari ini dan mendukung rencana badan pengurus memperbesar armada pesawat bekemampuan khusus. “Setelah 20 tahun ditinggalkan, kami rindu melihat sayap-sayap putih AMA melintasi langit menyibak awan di wilayah selatan…” ungkapnya penuh semangat menyambut rute baru AMA di Merauke, Ewer, Bade, Kepi dan Tanah Merah.

Sekarang ini AMA memiliki tujuh pesawat berkemampuan khusus, seperti Pilatus Porter PC-6 dan PAC 750 XL, untuk melayani wilayah misi di pedalaman. Kebutuhan minimal bagi penerbangan misi melayani semua keuskupan adalah sembilan pesawat. Sementara untuk melakukan pelayanan yang optimal AMA masih memerlukan dua belas pesawat lagi untuk melengkapi tujuh pesawat yang kini berjuang keras melayani rute-rute yang berat. Dalam waktu dekat, memanfaatkan pesawat-pesawat Cessna yang sudah tidak ekonomis untuk melayani penerbangan misi, AMA juga akan mengembangkan sekolah penerbangan untuk mencukupi kebutuhan pilot lokal bagi misi maupun perusahaan penerbangan lain.

Romo Diosesan Membuat Komitmen

(Tulisan pra-redaksional mingguan HIDUP)

“Eufemisme yang membuat negara kita menjadi hancur, saya suka menggunakan kata yang pas-pas saja,” ujar Bp. Didiek Dwinarmiyadi di suatu saat mendampingi lokakarya para imam diosesan KAJ mendalami arah dasar pastoral (ardaspas) KAJ dan menggali dasar nilai identitas imam diosesan Unio KAJ. “Para imam diosesan harus berani dinilai berdasarkan pencapaian yang akan dirumuskan bersama!” tegasnya melanjutkan. Dalam lokakarya yang berlangsung tanggal 6 – 8 Juni 2011 di Erema ini para imam diosesan sempat menghasilkan berbagai usulan bagi rencana strategis pencapaian ardas KAJ dan sebuah slogan untuk menjadi ‘pembeda’ imam diosesan Unio KAJ.

unio KAJ 1

Menjadi Gembala Baik Yang Murah Hati

Demikian judul makalah pegangan yang digunakan Bp. Didiek, ketua Perhimpunan Gembala Utama (PGU), saat menuntun para romo diosesan mendalami ardaspas KAJ. Kuria KAJ merumuskan cita-cita yang hendak dicapai dengan istilah arah dasar pastoral dan bukan visi misi untuk menghindari polemik terkait penggunaan istilah visi misi. Penegasan ini dirasakan penting agar cita-cita KAJ sendiri yang jadi pusat perhatian dan bukan istilahnya.

Para imam diosesan pertama-tama diundang untuk menyadari pentingnya membenahi cara mengurus paroki atau bidang tugasnya masing-masing secara lebih profesional menggunakan prinsip manajemen yang sudah biasa dipakai oleh perusahaan-perusahaan. Meskipun, menurut pak Didiek, mengurus paroki jelas lebih sulit dan rumit ketimbang mengurus sebuah perusahaan yang besar sekalipun karena dalam mengelola paroki tidak dapat diterapkan sistem punishment (sangsi) sebagaimana terjadi dalam perusahaan, “umat tidak bisa dipotong gajinya atau dipecat,” ujarnya “dan tidak merasa jika berkatnya dikurangi pastor,” bisik seorang imam muda. Pendekatan pastoral yang mengandaikan kebijakan para imam sebagai gembala dan dewan paroki sebagai ‘staf’ manajerial adalah hal yang penting. Dalam hal ini, para imam dan anggota dewan paroki dan para karyawan sebuah paroki dipahami sebagai direksi dan perangkat kerja perusahaan sementara umat adalah pelanggan.

“Gembala dan stafnya harus melayani umat, sedikitnya kebutuhan umat terpenuhi, cara pelayanannya sesuai harapan dan sedapat mungkin umat terpuaskan sehingga selalu ingat dan ingin lagi mendapat pelayanan yang serupa,” kira-kira demikian penjelasan yang ditangkap penulis tentang hubungan antara imam dan umat. Jika tingkat kepuasan umat akhirnya menuntut Gereja untuk melibatkan mereka dalam pengelolaan perusahaan, maka imam sebagai gembala harus memberi tempat hal itu terjadi. Namun jika kebutuhan umat saja, seperti pelayanan sakramental dan sakramentali belum terpenuhi bagaimana pemimpin Paroki mengharapkan umat terlibat dalam ‘kepemimpinan’ aktifitas hidup menggereja? Pendek kata kemampuan seorang gembala (dan seluruh staf serta perangkat kerjanya) harus benar-benar mau ditingkatkan dan berubah jika benar-benar ingin mencapai arah dasar yang dicita-citakan.

Memahami Pokok Arah Dasar

Salah satu hal yang penting adalah memahami pokok-pokok ardaspas itu sendiri. Dengan hadiah sebuah buku, satu gaya dari sekian banyak cara yang dipakai pak Didik untuk membuat lokakarya ini menyenangkan, para imam ditanya pokok inti arah dasar yang dicita-citakan, kekhasan cara mencapainya dan komitmen yang dituntut. Inti arah dasar pastoral KAJ dirumuskan dengan berbagai cara yang intinya memperdalam iman, membangun persaudaraan sejati dan terlibat dalam pelayanan kasih. Ada yang merumuskan dengan amat menarik mengambil motto dari salah satu paroki, ‘berakar dalam iman, berkembang dalam persaudaraan dan berbuah dalam pelayanan’ sementara ada juga yang dengan ringkas merumuskannya ‘semakin beriman, bersaudara dan melayani.’ Diskusi tentang hal yang terlihat sederhana ini saja sudah menghangatkan suasana, dari sekian jawaban dari para imam ternyata pada penjawab ke lima, yang tepat menunjukkan pokok cita-cita sebuah contoh kalimat dan berhasil mendapat hadiah sebuah buku terbitan perusahaan dimana pak Didiek bekerja.

Pemetaan tujuan strategis dalam lima tahun, sejak tahun 2011 ini juga dibuat. Lokakarya ini menuntun para imam untuk tidak sembarangan membuat kegiatan tapi selalu mengacu pada tujuan strategis dari arah dasar. Kegiatan-kegiatan harus dibuat kriteria evaluasi dan tolak ukur keberhasilannya agar dapat selalu dikoreksi dan diberikan indeks prestasinya. Mentalitas berprestasi harus mulai menjadi kebiasaan dalam pengelolaan paroki sebab tanpa semangat berprestasi cita-cita arah dasar KAJ tidak akan tercapai.

Kegiatan yang juga sangat menarik minat para imam adalah menentukan nilai dasar imam diosesan KAJ, yang mencitrakan sesungguhnya seorang imam diosesan KAJ. Setelah berkali-kali berembuk dan berdiskusi akhirnya muncullah beberapa slogan: SERAGAM, setia, ramah, gaul dan murah hati; 3COM, compassion, competent dan committed; serta HAMBA: hangat, andal, militan dan bahagia. Akhirnya dengan sejumlah perbaikan disepakati HAMBA dirasakan yang paling tersambung dengan motto uskup Jakarta, Serviens Domine cum Omni Humilitate (Melayani Tuhan dengan Segala Kerendahan Hati). Kata militan diganti misioner untuk menegaskan ketaatan pada tugas perutusan apapun-dimanapun menjadi habitus atau keutamaan imam diosesan sebagai sahabat uskup (bdk, Yoh 15:15) sekaligus mengingat misi domestik di Kalimantan dan Papua juga menjadi medan pastoral baru Keuskupan Agung Jakarta. Ditambahkan kata andil, agar akronim ini merupakan singkatan per satuan huruf.

Dekatkan diri dan umat kepada Kristus

Menjelang akhir lokakarya, Romo Diosesan Simon Petrus Lili Tjahyadi (RD.Simon) sebagai ketua Unio KAJ menetapkan dasar baru pembagian angkatan imam-imam diosesan KAJ, imam yunior (1 – 10 th), imam medior (11 – 20 th) dan imam senior (di atas 21 th). Kebetulan sekali masa jabatannya juga berakhir saat itu sehingga RD.Simon sekaligus melepaskan jabatan sebagai ketua Unio KAJ. RD.Simon menyatakan kesibukkannya sebagai ketua STF.Driyarkara akan membuatnya sulit menjadi ketua Unio KAJ sehingga tidak hendak dicalonkan kembali. Terpilih sebagai ketua Unio KAJ yang baru adalah RD. Hadisuryono, yang menyemangati para imam lain tentang banyaknya pekerjaan untuk membangun citra imam diosesan KAJ sebagai HAMBA seperti telah dirumuskan.

Mgr. Ignatius Suharyo memberi pesan agar para imam diosesan KAJ mengembangkan kerendahan hati mengingat tragedi menara babel, saat setiap orang ingin menjadi tinggi akhirnya malah tujuan tidak tercapai dan terpecah belah. Walaupun ada keluhan dari seorang peserta karena hanya 16% saja paroki di KAJ yang dipimpin oleh para imam diosesan sehingga berat membawa hasil pemetaan strategis dari lokakarya untuk Keuskupan Agung Jakarta. Mgr. Haryo menanggapi agar pekerjaan dimulai di paroki masing-masing, “adorasi adalah hal yang baik untuk membawa umat semakin beriman pada Kristus, jika para imam bisa membuat kegiatan adorasi di paroki masing-masing hal itu sudah memberikan pengaruh.” (enakidabi)

« Older entries