SUSTER-SUSTER SANTO YOSEP

(Surat Terbuka dari Seorang Sombong Yang Mengagumi para Suster SMSJ)

Perempuan jelang 50an tahun itu tidak kelihatan menarik tapi jelas para sopir truk pedalaman, yang terkenal ‘beringas’ melihat perempuan, sangat hormat sekaligus akrab dengannya. Orang-orang yang sungguh mengenalnya tentu tidak akan meremehkan Sr.Lidya SMSJ, yang dengan ‘kecerdikannya’ mampu memperjuangkan semacam dana abadi bagi asrama putri yang dikelola komunitas Fajar Pagi Moanemani. Saya juga yakin, lama setelah kepergiannya nanti, umat paroki Kristus Raja tidak akan pernah lupa seorang suster tomboy yang pernah jatuh dari motor hingga terluka parah di sebuah tikungan antara Nabire dan Lagari. Tapi tentu tak banyak yang tahu, bahwa suster Yulifa SMSJ itu termasuk satu dari sedikit saja suster yang berhasil lulus dari STFT Wedha Bhakti, Kentungan – Yogyakarta.

Hanya sok kenal saja (?!)

Para suster yang terkasih, saya tidak kenal betul dengan kalian. Sejujurnya, walaupun saya sempat bertemu dengan Sr. Yulifa SMSJ saat study teologi di kentungan, saya tidak pernah sungguh-sungguh mau mengenalnya apalagi ingin tahu tarekatnya. SMSJ sebuah nama aneh di telinga yang biasa mendengar OSU, banyak teman saya adalah suster ursulin, pengasuh cewek-cewek Ursula yang selalu dibicarakan teman-teman SMP dan SMA Kolese Kanisius, atau suster-suster CB yang mengasuh saya selama enam tahun di sekolah dasar, atau sedikitnya JMJ, tarekat suster yang mendirikan TK di wilayah Menteng tempat saya belajar membaca pertama kali. Jadi apa yang saya tuliskan ini mungkin bisa dinilai hanya sok kenal saja. Banyak sumber tulisan ini hanya berdasarkan pengamatan langsung atas sepak terjang para suster SMSJ yang pernah saya jumpai dalam karya di Keuskupan Timika lima tahun terakhir ini, juga dari tulisan-tulisan sejarah pendek tentang tarekat, yang harus saya baca ketika beberapa kali diminta memberi rekoleksi bagi komunitas SMSJ di Moanemani atau kemudian Nabire. Ada juga sumber dari cerita-cerita beberapa suster tentang situasi pembinaan awal kalian. Jadi tulisan ini tidak berdasarkan sebuah penelitian yang mendalam atas tarekat apalagi mengikuti sejarah karya kalian yang 80 tahun lamanya di wilayah Keuskupan Timika. Tapi bukankah ada pepatah: tidak perlu menenggak segentong anggur untuk mengetahui kualitasnya. Saya mengetahui anggur yang baik dari seteguk perjumpaan saya dengan para suster SMSJ yang berkarya di Keuskupan Timika.

Ada orang, yang menurut saya punya pengaruh sangat besar di Keuskupan Timika, berkata Gereja Papua dan khususnya Keuskupan Timika adalah anak-anak SMSJ. “Di sini jati diri kalian menemukan manifestasinya,” ujar beliau yang demi satu dan lain hal tidak dapat saya sebutkan namanya. Komentar itu bukan tanpa alasan. Dengan 80 tahun kehadiran di Kaukanao dan 50 tahun di Enagotadi, praktis SMSJ menjadi satu-satunya perintis yang masih berjuang di beberapa wilayah perjuangan awalnya setelah rekan misionaris sekaligus saudara tuanya, para fransiskan meninggalkan banyak wilayah yang telah mereka rintis bersama. OFM dan SMSJ masuk ke wilayah ini, yang sekarang Keuskupan Timika, seperti sepasang kekasih bercita-cita sama yang dibakar semangat cinta kasih untuk bersama-sama berkarya, maka perpisahan ini, seperti banyak perpisahan, pasti mengecewakan dan ‘ada’ pengaruhnya bagi SMSJ dan banyak orang yang pernah merasakan kehangatan pelayanan para suster SMSJ. Ketika para saudara dina meninggalkan Kaukanao, SMSJ masih bertahan sampai kemudian tidak mampu lagi mengirim suster-suster kecil ke sana. Karya rintisan yang bertahan puluhan tahun itu, hanya bisa dilanjutkan sedikit tahun saja oleh para saudari Abdi Kristus dan kini mulai lagi dilanjutkan oleh suster-suster FCh, tentu dengan pendekatan dan gaya yang berbeda.

Inti kekuatan SMSJ: KETERBUKAAN

Menurut saya keterbukaan adalah inti dari keutamaan Kristen yang mau pasrah pada penyelenggaraan Illahi. Para Saudari Marginal Santo Yosep ini menimba keutamaan ini dari pesan Savelberg yang begitu yakin akan pertolongan Allah, yang tentunya lewat banyak orang yang tidak bisa diduga siapa. Banyak imam terkesan dengan kekhasan SMSJ yang sangat terbuka menyambut berbagai tipe orang untuk dilayani. Kekuatan inilah yang pertama-tama rupanya menjadi bekal bagi keberhasilan karya-karya SMSJ di mana-mana. Keterbukaan ini, yang kesan saya mestinya berasal dari situasi rumah pendidikan di Manado, memberi kemungkinan yang lebih besar bagi para suster SMSJ memahami dan berjuang dalam keterbelakangan, kelambanan atau kekeraskepalaan orang-orang Papua. Para suster yang terkasih, intelektual bukan kekuatan kalian, kepriyayian status kebiaraan bukan kekuatan kalian walau sejarah SMSJ di tempat lain, misalnya Maluku, membuktikan hal itu juga menjadi keberhasilan karya. Bukan tidak penting seorang suster mendapat pendidikan ‘bergelar’ tinggi tapi dasar kekuatan adalah keterbukaan untuk siap hadir dalam dan menerima situasi paling marginal wilayah-wilayah misi.

Saya mengira, Sr. Lidya dan Sr. Yulifa, dua stereotipe SMSJ yang paling saya kenal, mengembangkan kekuatan ini. Memperkenalkan saya dengan Pak Dewa, kekuatan ekonomi yang berpengaruh bagi daerah pedalaman, membuktikan kelincahan Sr. Lidya melihat kemungkinan. Saat dia bertengger di samping kemudi truk, yang terguncang melintasi medan pedalaman, adalah saat sebuah tindakan irasional, yang disarankan Savelberg, dilakukan: “sisipkan sebuah surat permintaan tolong di bawah patung St. Yosep.” Tanpa keterbukaan pada pertolongan para sopir miskin dan marginal itu, Sr. Lidya tidak pernah akan sampai pada ‘sang’ Dewa, yang kini salah satu kontraktor terbesar di Nabire. Demikian juga terhempasnya Sr. Yulifa di kelokan menuju Legari menunjukan kefanatikannya akan pesan: Allah sudah menolong, Allah masih menolong dan Allah terus akan menolong. Dalam dua tahun lebih sedikit kiprahnya di Nabire, Sr. Yulifa membuat nama tarekat diingat lagi – atau mulai dikenal – dan bersamanya diperhatikan juga kehidupan menggereja sebuah paroki muda dengan stasi-stasi yang termarginalkan. Tempat di mana dia dan komunitas Degli Angeli bekerja adalah wilayah yang terluput dari kobaran misi masa lalu. Tak satupun sekolah Katolik pernah dirintis di sini hingga kini! Hingga sebuah TK mulai diperjuangkan dan kemudian Pendidikan Anak Usia Dini dimulai dengan modal dua orang suster perkasa anggota SMSJ, yang dengan keterbukaannya terhadap berbagai macam orang akan mampu mendapatkan bantuan mungkin dari penjahat sekalipun. Kecerdasan yang muncul dari kekuatan ini lebih dahsyat daripada intelektualitas yang dituntut bagi berdirinya sebuah lembaga formal pendidikan, karena dengan keterbukaan, para SMSJ bisa melihat banyak kemungkinan lain dalam pelayanan saat taraf intelektual seperti dilecehkan. Seperti di banyak wilayah misi Papua maka menjadi nyata pesan Savelberg bagi kalian: “menolong saat yang lain menolak untuk menolong!”

Suster kota yang masih mau tinggal bersama babi-babi

Susteran punya peternakan babi, bukan hal yang istimewa. Tapi suster yang keliling pasar dan restoran untuk mengumpulkan makanan babi, memasaknya dan bangun begitu subuh agar sempat memberi makan babi sebelum laudes, lalu mengotorkan tangan membersihkan kotoran babi setelah makan pagi untuk kemudian bergegas naik sepeda mengajar dengan segala persiapan ketrampilan sederhana, yang sudah disiapkan malam sebelumnya? Saya kira ini suatu bukti kekuatan fisik dan manajemen waktu yang luar biasa. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa pembiasaan seperti ada pepatah ‘ala bisa karena biasa.’ Apakah karena Sr. Fransisia SMSJ seorang Toraja, yang terkenal sebagai peternak babi? Mungkin juga menjadi salah satu faktor. Namun pola formatio awal dan suasana komunitas juga harus mendukung potensi baik ini bertahan, berkembang dan menghasilkan buah-buah yang berguna bagi tarekat.

Pembentukan karakter pekerja keras dan siap menjawab kebutuhan pelayanan apapun tentu dilakukan dalam masa pembinaan yang memang diarahkan secara demikian. Menurut cerita suster-suster SMSJ, yang saya kenal, saat pembinaan awal di novisiat suster-suster dilatih untuk bekerja keras hampir tanpa henti. Belum lagi saat masa yunior yang keras dan mungkin seringkali ada dalam tekanan para senior yang memperlakukan ‘orang baru’ sebagai anak bawang. Tapi situasi pembinaan keras macam itu yang juga menghantar Jengis Khan menyatukan Mongolia dan menguasai seluruh Asia dan hampir merebut Eropa.

Dengan pembentukan karakter sebagai seorang pekerja keras dengan jadwal waktu yang ketat inilah, menurut dugaan saya, menciptakan para suster yang tangguh untuk karya-karya luar biasa dengan fasilitas dan dukungan yang sangat terbatas di pedalaman Papua yang keras. Saya mengira tarekat suster SMSJ saat ini tidak punya keunggulan finansial untuk mendukung komunitas-komunitas misi yang tersebar di banyak tempat. Namun kesetiaan bertahan dalam karya-karya yang telah dimulai adalah keutamaan yang harus dijaga. Berbekal karakter wanita perkasa buah pembinaan novisiat membuat banyak komunitas suster SMSJ bertahan dan berbuah dalam karya pelayanan, bekal ini adalah investasi yang sangat strategis dan berharga bagi Gereja. Saya pernah menyaksikan juga semangat ini pada suster-suster tua di tarekat lain yang saya kenal, namun sekarang saya menyaksikan seorang suster yang masih begitu muda menarikan gelora itu di hadapan saya.

Saat banyak suster dari berbagai tarekat tinggal dan makan bersama anak-anak asrama sebagai hal luar biasa, saya merasa suasana berbeda telah ditunjukan oleh komunitas SMSJ yang saya kenal. Ketidakmampuan membayar pegawai tidak menyurutkan tekad untuk menghasilkan karya gemilang. Maka jadilah suster-suster tinggal bersama babi-babi, demi terwujudnya gagasan-gagasan baik, demi perkembangan karya dan tentu wajar juga demi lauk pauk yang lebih mantap (pikir saya sambil tersenyum).

Apalah arti sebuah nama?

Demikian kata Shakespeare dalam tragedi Romeo dan Juliet, yang ironisnya justru persis menunjukkan kekuatan suatu nama untuk menghancurkan sebuah percintaan. Hal ini yang sering diabaikan banyak orang ketika mengubah sebuah nama. Padahal orang-orang Jawa harus melakukan upacara yang rumit untuk mengubah nama anaknya yang sakit-sakitan, agar perubahan nama itu sungguh-sungguh memberi perbedaan dan makna bagi kehidupannya. Seperti nama keluarga Wijshijer yang amat jarang didengar itu akan memberi makna berbeda bagi mereka yang memilikinya karena dari sedikit saja pemilik nama itu, terdapat beberapa profesional atau eksekutif muda, beberapa penjahat, seorang kandidat ratu sejagat dari Aruba, seorang karyawan NASA, seorang duta perusahaan generator raksasa kelas dunia Alstom dan seorang pastor diosesan Jakarta dan semua orang itu masih bisa dihubungkan sampai pada garis keturunan tingkat ketiga dan keempat menurut perhitungan kanonik. Para Kardinal yang terpilih biasa memilih nama dari paus yang terdahulu, sehingga ada abjad Romawi ditambahkan dibelakang nama itu untuk menunjukkan kepastian identitasnya. Jadi nama juga menunjukkan kedekatan dan keberlanjutan sebuah semangat dan tradisi.

Sekarang orang bingung SMSJ (Sorores Minores Sancti Josephi) atau DSY (Dina Santo Yosep)? Dan dengan gurau salah satu suster akan menjawab SaMa SaJa. Apakah demikian? Saya merasa tidak ‘se-saja itu sama-nya’ (bisa juga suster-suster bilang masa bodo dengan perasaan saya, epenkah?).

Dengan nama SMSJ, saya bisa merasa kedekatan nama itu dengan sang pendiri yang juga seorang imam diosesan, Mgr. Savelberg. Sementara dengan DSY, seorang yang banyak terlibat dengan wilayah religius akan segera mengenalnya sebagai bagian dari OFM atau tepatnya ordo ketiga fransiskan setelah OFM (entah yang mana) dan para pertapa putri Claris. Tapi bagi kebanyakan orang yang dilayani, nama Dina Santo Yosep akan sulit dimengerti maknanya. Santo Yosep si tukang kayu jelas mereka kenal namun kata dina yang berasal dari bahasa asing sansekerta untuk menterjemahkan kata latin – bahasa asing lain – minor sudah bukan menjadi kata yang gampang diketahui artinya. Jujur saja, saya baru tahu kalau dina itu berarti kecil dari Sr. Catherine SMSJ di pertengahan Nopember 2008 lalu.

Memang ada beberapa tarekat mengubah nama formal asali mereka dengan maksud menjadi lebih akrab di telinga penutur bahasa Indonesia atau Melayu. Beruntung para Yesuit hadir dengan awalan nama S untuk kata Societas sehingga bisa diterjemahkan Serikat ketimbang perkumpulan atau persaudaraan. Apalagi saat itu di Jawa mulai bermunculan aneka nama menggunakan kata ini misalnya, Serikat Islam dan Serikat Dagang Islam serta juga Amerika Serikat yang memudahkan kebanyakan orang membayangkan maknanya. Ada juga yang tidak cukup repot dengan urusan nama, para ursulin misalnya menggubah Ordo Sancti Ursulae menjadi Ordo Santa Ursula, tanpa mengubah sedikitpun nama asalinya. Masalah muncul ketika suku kata awal terjemahan nama menjadi amat berbeda dengan suku kata pembentuk singkatan nama tarekat, saya jarang mendengar terjemahan itu dibakukan menjadi nama tarekat – mungkin karena kekurangluasan pengetahuan saya, yang berarti mungkin juga berlaku bagi banyak orang lain. Misalnya para imam dan bruder SCJ (Sacre Cordis Jesu) tidak mengubahnya menjadi HKY (Hati Kudus Yesus) walaupun mereka senang menyebut diri Dehonian, pengikut Leo Dehon, Pr. Bahkan para biarawan saudara dina sendiripun tidak mengubah OFM (Ordo Fratrum Minorum = latin) menjadi TSD (Tatanan Saudara Dina = Melayu/Jawa/Sansekerta = Indonesia).

Kadang kala terjemahan juga punya arti sangat berbeda dan menjadi salah dipahami. Seperti menterjemahkan Pr di belakang nama para imam diosesan sebagai projo (Jawa/Sansekerta) adalah kesalahan besar karena Pr sebenarnya berarti imam merunut asalinya yang merupakan singkatan dari kata latin presbiter yang berarti imam. Sekarang ini kata projo menurut lafal Jawa atau praja sebagaimana tertulis lebih identik dengan pemerintahan ketimbang sebuah tradisi imamat. Saya menduga kata itu muncul dari kebiasaan mengkotak-kotakan yang biasa dilakukan manusia bahwa imam itu bukan satu tapi ada yang seperti pegawai negri (bdk: pamong praja) dan ada yang pegawai surga (bdk: biarawan) padahal kita semua pekerja Kaum Terpanggil Semesta yang harus dibaca Gereja Katolik, dari kata Yunani, eks kaleo yang bisa berarti kaum terpanggil dan kath holos yang berarti semesta atau seluruhnya tapi tak pernah nama terjemahan ini dipakai sebagai sebutan nama formal karena akan merusak identitas yang dikenal.

Jadi secara pribadi saya sangat sedih jika sebuah identitas yang sekian lama dikenal dan merasuk dalam hati banyak orang ‘tiba-tiba’ berubah dengan maksud yang tidak sampai pada tujuannya yaitu mengakrabkan nama kepada penutur berbahasa Indonesia. Apalagi singkatan SMSJ bisa dengan leluasa dimengerti sebagai Saudari Marginal Santo Josep (atau Saudari Miskin jika ingin lebih terkesan fransiskanes) karena sekarang ini kata marginal walaupun dari kata asing lebih sering diujar oleh media massa atau kalangan aktifis dan karenanya lebih akrab dimengerti khalayak untuk menerangkan ‘wilayah’ yang tersisih, yang tidak diperhatikan apalagi ditolong oleh kebanyakan orang. Dari kata ini justru semangat pendiri akan terasa diwariskan dan dikembangkan tanpa mengabaikan kenyataan bahwa tarekat ini ‘dititipkan’ birokrasi pendirian persekutuan kereligiusannya kepada persaudaraan pengikut santo Fransiskus Asisi (baca lagi sejarah pendirian SMSJ). Para suster Saudari Marginal Santo Yosep toh kenyataannya memang bisa diandalkan untuk karya-karya di wilayah kaum marginal, wilayah yang terpinggir, yang jarang ditolong oleh orang lain seperti wilayah di pinggiran kota emas Nabire di mana tak satupun sekolah didirikan Gereja di sana sampai para suster SMSJ hadir merintis sebuah TK dan kerja rodi guna bisa mendidik anak-anak usia dini dan tak bersekolah.

Kesaksian akhir…

Siapa sih penulis ini semua? Sampai-sampai begitu sok kenal dengan SMSJ. Seperti dalam sub judul, saya seorang sombong. Saya Johan Ferdinand Wijshijer, Pr. Seorang imam muda diosesan KAJ yang baru sebentar dan sedikit berkarya di Keuskupan Timika tepatnya di paroki Bomomani, berjarak 17 km saja dari kota kabupaten Dogiyai, Moanemani tempat Komunitas SMSJ berkarya. Seorang lulusan dari sekolah-sekolah paling elit binaan Yesuit di Jakarta, Kolese Kanisius dan Kolese Gonzaga; seorang dari dua saja mahasiswa Alex Lanur OFM yang mendapatkan nilai A sempurna untuk mata kuliah logika. Mantan kordinator seksi ilmiah untuk dua periode di STF.Driyarkara dimana saya lulus dengan predikat cum laude, mantan ketua Forum Sosial Yogyakarta, seorang yang pernah menjadi peneliti di Center for Human Rights Study dan peserta pertemuan PBB terkait dekade pendidikan HAM Asia-Pasifik di Osaka, Jepang. Seorang yang merasa ikut memutar roda reformasi negara ini dan secara tersembunyi berpikir ikut menggulingkan Soeharto. Pendek kata, saya adalah seorang yang cukup sombong untuk bisa memuji orang lain.

Tapi saya tidak bisa menutup mata dan hati saya melihat karya-karya para suster SMSJ. Kalian terlalu marginal dan terlalu miskin untuk bisa meninggalkan kenangan merintis sekolah katekis di Epouto, namun karya-karya kalian begitu agung dan begitu besar. Jika ada orang-orang lain meragukan pengorbanan kalian, tanyalah siapa dia, karena jika seorang sesombong saya bisa mengagumi kalian, abaikan cemooh mereka!

Saya memang melihat tidak dengan luas tapi secara pribadi dan sangat subjektif. Jika tidak ada keburukan dari SMSJ yang saya tampilkan di sini, hal itu karena cinta saya pada para suster SMSJ demikian besar. Cinta yang demikian itu membuat mata saya melihat kelemahan dan hal-hal buruk sebagai kebaikan besar yang belum sempat mewujud. Demikian kesaksian saya, seorang sombong yang hadir dalam perayaan besar 80 tahun misi di Kaokanao di mana nama SMSJ sempat disebut, seorang sombong yang sempat mampir – walau tak diundang – mengingat 50 tahun komunitas SMSJ di Enagotadi. Seorang yang mengenal saya tahu bagaimana saya menulis semua ini dengan air mata haru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: