Enakidabi diganti Enanapode

Ketika Perilaku dan Kerja Pastor Menentukan Bagaimana Dia Dipanggil

Serah terima jabatan kepemimpinan misi domestik KAJ dan pastor paroki Bomomani, Mapiha Keuskupan Timika pada akhir Nopember lalu (28/11/2010) terjadi biasa saja seperti umumnya serah terima jabatan di kebanyakan paroki. Tetapi satu hal yang menarik, nama pastor baru untuk Bomomani, yang demikian panjang: Michael Wisnu Agung Pribadi serta merta diganti dengan demikian pendek Enanapode.

ENANAPODE resmi jadi pastor paroki Bomomani ... Enakidabi istirahat...

Solidaritas Misioner Keuskupan Agung Jakarta

Kehadiran Romi, panggilan mesra Romo Michael WAP, Pr, di Bomomani adalah wujud solidaritas misioner KAJ bagi Keuskupan Timika. Rm. Michael diutus oleh Uskup Agung Jakarta, saat itu Kardinal Julius Darmatmadja untuk melanjutkan karya misi di Bomomani yang sudah dimulai oleh saya (Romo Fe / Johan Ferdinand, Pr) juga seorang Imam KAJ. Romo Kardinal memang sengaja mengutus Romi di awal tahun 2010 (1/2/2010), setahun sebelum kontrak Karya Romo Fe dengan Keuskupan Timika berakhir agar Romi bisa mengamati dan nantinya mengambil alih tugas perutusan misi domestik tersebut.

Pada akhirnya, karena saya dan Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil melihat bahwa Rm. Michael mudah menyatu dengan kehidupan umat setempat, suku Mapiha-Mee; maka serah terima jabatan dilakukan di akhir Nopember lalu (28/11/2010). Tujuannya agar pemikiran dan kebijakan baru dari Rm. Michael bisa segera dijabarkan, mengingat di awal tahun Keuskupan Timika biasa merencanakan program karya misi di seluruh parokinya. “Karakter dan cara kerja Rm. Michael yang berbeda dengan Romo Fe pasti menghasilkan pendekatan program karya yang lain walaupun Visi dan Misi tetap sama.” Kotbah Mgr. John yang mungkin menanggapi ungkapan Rm. Michael bahwa dia tidak menggantikan Romo Fe karena Romo Fe tidak tergantikan. Maka saya menggunakan kata ‘mengambil alih’ untuk menunjukkan kebebasan dan keluasan gerak yang dapat dilakukan Romo Michael yang tahbisan imamat dua tahun lalu (Agustus 2009).

Maka saat itu, di akhir perayaan ekaristi dan pemberian krisma itu, kepada Rm.Michael diserahkan buku baptis, buku perkawinan, peta kompleks misi, cap paroki dan kunci mobil double gardan yang selama ini sudah digunakannya untuk pengembangan kopi dan berpastoral. Lalu seorang ibu berpakaian adat, Dorthea Wakei, yang biasa memasak untuk pastoran naik ke panti imam dan memasangkan amapa lambang status kepemimpinan kepada Rm.Michael. Ibu itu memberi nama Enanapode pada Romi dan menjelaskannya, “Dulu saya mendengar semua yang dikatakan, yang direncanakan dan dipikirkan oleh Pater Fe, saya lihat semua marah Pater Fe semua menjadi kenyataan, semuanya jadi baik maka dulu saya memberinya nama Enakidabi, ‘sekali bicara pasti jadi’. Lalu sekarang Pater Michael datang, dia biasa menghaluskan pekerjaan yang saya kerja kasar waktu memasak, merapikan kamar yang sudah saya rapikan, membersihkan pastoran yang sudah saya bersihkan, menanam pohon bunga yang sudah saya tanam (baca: mengurus kebun anggrek) maka saya memberinya nama Enanapode, ‘yang menyempurnakan’. Yang membuat semuanya baik akan pergi tapi yang menyempurnakan sudah datang.” Semua umat bertepuk tangan dan menyerukan ‘yuu…’ menunjukkan kegembiraan dan persetujuan.

Nama adat menunjukkan penerimaan umat

Usai misa, sambil tersenyum Mgr. John berbisik pada saya, “Mama itu pintar, Rm.Michael ‘kan menunjukkan banyak sifat keibuan, jadi ditambah dengan perilakunya maka nama itu memang tepat.” Kepada dewan paroki yang berkumpul di pastoran Bapak Uskup mengatakan tugas Rm.Michael merapikan banyak pekerjaan pastor terdahulu yang belum selesai atau sudah tidak berjalan lagi. Beliau mengatakan pemberian nama adat menunjukkan pastor tersebut diterima dan dilindungi oleh umat, menjadi bagian dari komunitas suku itu karena umat melihat pastor itu menyatu dengan kehidupan umat sehingga umat bisa sungguh kenal dengan pastor itu. Dari sejumlah imam non Papua, ada dua orang lain juga yang pernah mendapat nama adat selain saya dan Romi misalnya: Mgr. John Philip Saklil disebut Gaiyabi, si pemikir dan Rm. Sebas, Pr pastor paroki Obano asal Flores disebut Maipai Wiyai atau juru damai.

IMG_3502 “Memang ada rasa bangga ya jika mendapat nama adat, karena kita merasakan ada pengakuan dan penerimaan.” Komentar Mgr. John, yang mengatakan nama Gaiyabi diambil dari kata gaiya yang artinya berpikir. Namun menurut para tua-tua yang memberikan nama itu saat pentahbisannya sebagai Uskup, Mgr. John dipanggil Gaiyabi sebab selalu memberi gagasan baru ketika semua orang sedang bingung saat rapat menemui jalan buntu. Jadi bukan semata dimengerti sebagai orang yang berpikir, Gaiyabi lebih seperti orang yang memberi pencerahan dan selalu menemukan kemungkinan keluar dari masalah. Demikian juga akhiran ‘bi, wiyai dan pode’ semua menunjukan kejantanan namun masing-masing punya nuansa berbeda. Secara harafiah Enakidabi berarti ‘buah merah yang selalu menjadi baik’ karena bi berarti buah merah, kida berarti selalu menjadi atau selalu berhasil dan ena berarti baik atau indah. Namun bi atau buah merah harus dimengerti sebagai simbol kejantanan untuk kata-kata keras, keberanian atau amarah, Sementara Enanapode secara harafiah akan sulit dimengerti karena enana berarti memperbaiki yang (sudah/masih) baik dan pode suatu kata sifat yang artinya terpanggang atau matang. Enanapode karenanya menunjuk pada laki-laki dewasa dengan perilaku gentleman dan halus sementara, baik Gaiyabi maupun Enakidabi menunjukan si pemilik nama adalah seorang pemberani, suka marah atau berbicara keras.

Misi Mewartakan Kabar Gembira

Karya misi domestik di Bomomani terutama adalah pastoral paroki. Paroki yang baru berumur sembilan tahun ini (20/02/2002) ada dalam wilayah Mapiha yang punya tingkat kesulitan misi kedua setelah wilayah Moni-Puncak Jaya. Nama Mapiha sering ditulis Mapia namun saya menulis sesuai pelafalan umat setempat yang menempatkan lafal ‘h’ di antara vokal sementara umumnya orang menempatkan lafal ‘y’. Etimologi nama ini berarti suatu keterpesonaan akan padatnya pepohonan di hutan tropis pegunungan karena ma = benar, dan piha = pohon bisa dimengerti ‘benar-benar pepohonan/hutan lebat’. Dengan umat yang jauh tersebar di tujuh stasi di gunung-gemunung antara 600 – 1773 meter dari permukaan laut, karya pastoral paroki Bomomani sangat menekankan katekese dan pembinaan kader Gereja untuk membangun basis-basis pelayanan iman umat secara mandiri. Pelayanan paroki dilakukan dengan mengunjungi stasi-stasi dan hal ini memang membutuhkan sosok pastor yang punya stamina dan kesehatan prima serta kehendak yang kuat untuk melayani umat, yang jelas tidak sebanyak satu lingkungan saja di sebuah paroki di Jakarta. Untuk hal ini Romi sudah menunjukkan kesungguhan hatinya untuk memberikan diri bagi umat. Seminggu setelah tiba di Bomomani, sebelum mulai mengunjungi stasi, Rm.Michael sudah bikin program latihan mendaki bukit-bukit di sekitar pusat paroki. “Saya ambil anggrek hitam di gunung Yadu dan sejumlah jamur yang nanti akan diteliti di Jakarta.” Ujarnya di suatu siang menceritakan perjalanannya mendaki gunung yang dipicu juga dengan hobi mengkoleksi anggrek dan memasak jamur.

Budi daya jamur termasuk salah satu hal yang dicoba Rm. Michael dalam pastoral sosial ekonomi. Misi domestik KAJ di Bomomani memang ingin ‘mewartakan segala aspek kabar gembira dari budaya dan situasi lokal kepada umat yang termarginalkan oleh peradaban’. Berdasarkan keyakinan itu, sejak hadir di pedalaman Papua, misi domestik melakukan banyak terobosan untuk mengembangkan sumber daya umat yang hidup dari hasil bercocok tanam. Pengetahuan budaya agraris yang terbatas dari tingkatan budaya peramu ini membuat, umat yang mulai bertani ini hidup dalam kondisi kemiskinan struktural yang cukup memprihatinkan. Demikianlah misi KAJ memperkenalkan pabrik tahu, revitalisasi kebun kopi dan pengolahannya, pemeliharaan ayam potong, karya transportasi, distribusi sembako dan pemanfaatan air untuk energi listrik. Itu sebabnya, kecintaan Romi akan tanaman sangat menolongnya cepat beradaptasi dengan karya dan umat. Rm.Michael saat ini berkonsentrasi mengembangkan budidaya, pengolahan dan pemasaran kopi Mapiha yang ternyata termasuk jenis kopi langka, Typica Yemeni.

Keakraban para pastor dari Jakarta dengan umat Papua adalah suatu keharusan bagi kelangsungan misi domestik mengingat kebanyakan pastor Jakarta terbiasa dengan kemapanan dan tidak punya fisik sekuat dan setangguh orang Papua, yang terbiasa dalam penderitaan dan kehidupan yang keras. Tanpa dekat dengan umat, mempelajari budayanya serta memahami cara pandang mereka terhadap dunia dapat dipastikan segala usaha yang dilakukan akan gagal karena kehabisan tenaga dan putus asa. Ungkapan-ungkapan seperti ‘orang Papua pemalas’ adalah tanda orang yang berujar demikian tidak kenal dan tidak memahami kehidupan dan cara pandang orang Papua. “Gue bingung temen-temen bilang orang Papua malas, tapi mereka kok bisa hidup ya di gunung angker seperti ini.” Ujar Hendra, seorang ahli Kopi yang kelelahan berjalan mengunjungi kebun kopi umat yang harus naik turun melewati sungai, rawa dan bukit. Cobalah berpikir logis, tidak mungkin seorang pemalas punya tubuh kekar berotot dengan perut six pack seperti umumnya tampak di antara orang-orang Papua. Situasi hidup yang serba terbatas, alam yang keras dan minimnya pengetahuan serta kelangkaan prasyarat kehidupan modern ditambah kebobrokan sistem pemerintahan menjadi penyebab dari perilaku, yang sering membuat kita, anda dan saya orang di luar Papua katakan mereka malas, apakah itu adil?

Fe Enakidabi

1 Komentar

  1. juliva said,

    17 Juni 2011 pada 03:22

    Bagus ya, semakin jelas pengenalan akan Papua-Mapia. bisa diperdalam metode utk bertahan hidu di daerah seperti itu. mungkin dibukukan baik ya, sehingga daerah yg sulit dijangkau bisa belajar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: