Romo Diosesan Membuat Komitmen

(Tulisan pra-redaksional mingguan HIDUP)

“Eufemisme yang membuat negara kita menjadi hancur, saya suka menggunakan kata yang pas-pas saja,” ujar Bp. Didiek Dwinarmiyadi di suatu saat mendampingi lokakarya para imam diosesan KAJ mendalami arah dasar pastoral (ardaspas) KAJ dan menggali dasar nilai identitas imam diosesan Unio KAJ. “Para imam diosesan harus berani dinilai berdasarkan pencapaian yang akan dirumuskan bersama!” tegasnya melanjutkan. Dalam lokakarya yang berlangsung tanggal 6 – 8 Juni 2011 di Erema ini para imam diosesan sempat menghasilkan berbagai usulan bagi rencana strategis pencapaian ardas KAJ dan sebuah slogan untuk menjadi ‘pembeda’ imam diosesan Unio KAJ.

unio KAJ 1

Menjadi Gembala Baik Yang Murah Hati

Demikian judul makalah pegangan yang digunakan Bp. Didiek, ketua Perhimpunan Gembala Utama (PGU), saat menuntun para romo diosesan mendalami ardaspas KAJ. Kuria KAJ merumuskan cita-cita yang hendak dicapai dengan istilah arah dasar pastoral dan bukan visi misi untuk menghindari polemik terkait penggunaan istilah visi misi. Penegasan ini dirasakan penting agar cita-cita KAJ sendiri yang jadi pusat perhatian dan bukan istilahnya.

Para imam diosesan pertama-tama diundang untuk menyadari pentingnya membenahi cara mengurus paroki atau bidang tugasnya masing-masing secara lebih profesional menggunakan prinsip manajemen yang sudah biasa dipakai oleh perusahaan-perusahaan. Meskipun, menurut pak Didiek, mengurus paroki jelas lebih sulit dan rumit ketimbang mengurus sebuah perusahaan yang besar sekalipun karena dalam mengelola paroki tidak dapat diterapkan sistem punishment (sangsi) sebagaimana terjadi dalam perusahaan, “umat tidak bisa dipotong gajinya atau dipecat,” ujarnya “dan tidak merasa jika berkatnya dikurangi pastor,” bisik seorang imam muda. Pendekatan pastoral yang mengandaikan kebijakan para imam sebagai gembala dan dewan paroki sebagai ‘staf’ manajerial adalah hal yang penting. Dalam hal ini, para imam dan anggota dewan paroki dan para karyawan sebuah paroki dipahami sebagai direksi dan perangkat kerja perusahaan sementara umat adalah pelanggan.

“Gembala dan stafnya harus melayani umat, sedikitnya kebutuhan umat terpenuhi, cara pelayanannya sesuai harapan dan sedapat mungkin umat terpuaskan sehingga selalu ingat dan ingin lagi mendapat pelayanan yang serupa,” kira-kira demikian penjelasan yang ditangkap penulis tentang hubungan antara imam dan umat. Jika tingkat kepuasan umat akhirnya menuntut Gereja untuk melibatkan mereka dalam pengelolaan perusahaan, maka imam sebagai gembala harus memberi tempat hal itu terjadi. Namun jika kebutuhan umat saja, seperti pelayanan sakramental dan sakramentali belum terpenuhi bagaimana pemimpin Paroki mengharapkan umat terlibat dalam ‘kepemimpinan’ aktifitas hidup menggereja? Pendek kata kemampuan seorang gembala (dan seluruh staf serta perangkat kerjanya) harus benar-benar mau ditingkatkan dan berubah jika benar-benar ingin mencapai arah dasar yang dicita-citakan.

Memahami Pokok Arah Dasar

Salah satu hal yang penting adalah memahami pokok-pokok ardaspas itu sendiri. Dengan hadiah sebuah buku, satu gaya dari sekian banyak cara yang dipakai pak Didik untuk membuat lokakarya ini menyenangkan, para imam ditanya pokok inti arah dasar yang dicita-citakan, kekhasan cara mencapainya dan komitmen yang dituntut. Inti arah dasar pastoral KAJ dirumuskan dengan berbagai cara yang intinya memperdalam iman, membangun persaudaraan sejati dan terlibat dalam pelayanan kasih. Ada yang merumuskan dengan amat menarik mengambil motto dari salah satu paroki, ‘berakar dalam iman, berkembang dalam persaudaraan dan berbuah dalam pelayanan’ sementara ada juga yang dengan ringkas merumuskannya ‘semakin beriman, bersaudara dan melayani.’ Diskusi tentang hal yang terlihat sederhana ini saja sudah menghangatkan suasana, dari sekian jawaban dari para imam ternyata pada penjawab ke lima, yang tepat menunjukkan pokok cita-cita sebuah contoh kalimat dan berhasil mendapat hadiah sebuah buku terbitan perusahaan dimana pak Didiek bekerja.

Pemetaan tujuan strategis dalam lima tahun, sejak tahun 2011 ini juga dibuat. Lokakarya ini menuntun para imam untuk tidak sembarangan membuat kegiatan tapi selalu mengacu pada tujuan strategis dari arah dasar. Kegiatan-kegiatan harus dibuat kriteria evaluasi dan tolak ukur keberhasilannya agar dapat selalu dikoreksi dan diberikan indeks prestasinya. Mentalitas berprestasi harus mulai menjadi kebiasaan dalam pengelolaan paroki sebab tanpa semangat berprestasi cita-cita arah dasar KAJ tidak akan tercapai.

Kegiatan yang juga sangat menarik minat para imam adalah menentukan nilai dasar imam diosesan KAJ, yang mencitrakan sesungguhnya seorang imam diosesan KAJ. Setelah berkali-kali berembuk dan berdiskusi akhirnya muncullah beberapa slogan: SERAGAM, setia, ramah, gaul dan murah hati; 3COM, compassion, competent dan committed; serta HAMBA: hangat, andal, militan dan bahagia. Akhirnya dengan sejumlah perbaikan disepakati HAMBA dirasakan yang paling tersambung dengan motto uskup Jakarta, Serviens Domine cum Omni Humilitate (Melayani Tuhan dengan Segala Kerendahan Hati). Kata militan diganti misioner untuk menegaskan ketaatan pada tugas perutusan apapun-dimanapun menjadi habitus atau keutamaan imam diosesan sebagai sahabat uskup (bdk, Yoh 15:15) sekaligus mengingat misi domestik di Kalimantan dan Papua juga menjadi medan pastoral baru Keuskupan Agung Jakarta. Ditambahkan kata andil, agar akronim ini merupakan singkatan per satuan huruf.

Dekatkan diri dan umat kepada Kristus

Menjelang akhir lokakarya, Romo Diosesan Simon Petrus Lili Tjahyadi (RD.Simon) sebagai ketua Unio KAJ menetapkan dasar baru pembagian angkatan imam-imam diosesan KAJ, imam yunior (1 – 10 th), imam medior (11 – 20 th) dan imam senior (di atas 21 th). Kebetulan sekali masa jabatannya juga berakhir saat itu sehingga RD.Simon sekaligus melepaskan jabatan sebagai ketua Unio KAJ. RD.Simon menyatakan kesibukkannya sebagai ketua STF.Driyarkara akan membuatnya sulit menjadi ketua Unio KAJ sehingga tidak hendak dicalonkan kembali. Terpilih sebagai ketua Unio KAJ yang baru adalah RD. Hadisuryono, yang menyemangati para imam lain tentang banyaknya pekerjaan untuk membangun citra imam diosesan KAJ sebagai HAMBA seperti telah dirumuskan.

Mgr. Ignatius Suharyo memberi pesan agar para imam diosesan KAJ mengembangkan kerendahan hati mengingat tragedi menara babel, saat setiap orang ingin menjadi tinggi akhirnya malah tujuan tidak tercapai dan terpecah belah. Walaupun ada keluhan dari seorang peserta karena hanya 16% saja paroki di KAJ yang dipimpin oleh para imam diosesan sehingga berat membawa hasil pemetaan strategis dari lokakarya untuk Keuskupan Agung Jakarta. Mgr. Haryo menanggapi agar pekerjaan dimulai di paroki masing-masing, “adorasi adalah hal yang baik untuk membawa umat semakin beriman pada Kristus, jika para imam bisa membuat kegiatan adorasi di paroki masing-masing hal itu sudah memberikan pengaruh.” (enakidabi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: