Jangan tuntut lunasi belis…

Demikian ujar Dr. Francisia Ery Seda dalam salah satu seminar di Bulan Pastoral bagi para pastor, pendeta dan suster dari seluruh Indonesia, mulai malam Jumat, 7/7/2011. Hingga berakhir ceramahnya keesokkan sore, total 12 jam beliau bicara tanpa kehabisan energi walau sempat terlambat karena kereta yang dipercaya dan dinikmatinya persis terlambat 2 jam seperti lagu Iwan Fals… Rupanya rasa tak aman naik pesawat menuntunnya membuat pilihan yang tepat baginya naik kereta, “Keretanya bagus, bersih, kursi juga nyaman dan pemandangan indah sungguh pantas dinikmati tapi memang membuat saya terlambat datang memberi seminar karena saya tunggu kereta hingga dua jam molor dari jadwal seharusnya…” komentarnya.

IMG_7283

Saya kira tepat kalau kejadian kereta terlambat ini betul bukan kebetulan karena kebetulan, jika anda masih yakin hal itu ada, Ibu Ery Seda ini bicara kegagalan pemerintah mengelola republik tercinta ini. Sebagaiman Iwan Fals menggugat dengan lagu, yang tak bosan kita dengar, demikian semangat yang terpancar dari seorang perempuan Ery Seda menyadarkan beberapa hal yang ringkasnya begini:

Kompleksitas horisontal dan vertikal dalam negara kita tidak dibenahi secara serius dan digunakan oleh penguasa sesuai politik konspirasi penjajah, devide et impera. Senyatanya, sistem pemerintahan kita juga bukanlah sebuah sistem baru tapi sekedar melanjutkan sistem yang dulu penjajah Belanda gunakan.

Lagipula revolusi kemerdakan kita juga bukanlah suatu revolusi sosial melainkan revolusi elitis. Revolusi sosial selalu ditandai dengan rezim cleansing, seperti revolusi Perancis dan revolusi Bolshevik yang memunahkan kaum bangsawan di Perancis dan Rusia. Jika G30S PKI berhasil, mungkin itu bisa jadi revolusi sosial tapi yah belum tentu juga sih… Pendek kata revolusi elitis akan menghasilkan komposisi pejabat pemerintahan 4L, ‘Lo Lagiii… Lo Lagi’

Kurang data dan manipulasi fakta adalah ciri pemerintah Indonesia, nah sayangnya itu terjadi juga ketika pastor paroki malas membuat pendataan umat. Gereja jadi tidak tahu apa yang sebetulnya dibutuhkan umat. Jadi buat pendataan yang baiklah. (Mendingan jaman kita kan dah pake laptop dan tablet, pendataan bisa instan juga… kebayang ngga kalo musti bawa mesin tik peninggalan pastor Van Hoten ke cafe-cafe untuk ngobrol dengan sie-data paroki, seorang pemuda modern, yang mencari wifi gratis di situ untuk bercengkrama dengan komunitas maya yang luas itu?)

Masalah ketidaksetaraan gender masih belum menjadi masalah bagi banyak orang, termasuk Gereja. Idealnya, tidak ada lagi keterangan agama dalam KTP dan tidak perlu lagi kementrian pemberdayaan wanita. Khusus untuk Flores, saat seorang laki-laki dituntut mas kawin – belis tinggi yang tidak rasional, haruslah orang tua perempuan menghindari tuntutan lunasi belis. Jangan buat situasi perempuan menjadi barang yang terbeli dengan pelunasan belis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: