Pabelan dalam zaman ketidaksabaran…

Pesantren (135)“Budaya instan adalah hilangnya kesabaran menuruti suatu proses,” ujar KH. Najib pemimpin pesantren Pabelan, Muntilan. Dengan 600 santri tingkat SMP dan SMA, pesantren Pabelan hendak mengajarkan pluralitas sebagai penghargaan terhadap sesama manusia sebagai saudara dalam kesabaran dan ketekunan.  "Saat surat menjadi alat komunikasi dominan, orang sabar menuruti proses: saat butuh uang si santri menulis surat pada orang tua, berlembar-lembar kertas yang terkadang butuh beberapa hari sebelum dibawa ke kantor pos. Di kantor pos, terjadi lagi proses pengantaran yang secepat-cepatnya butuh 4 hari. Tiba di alamat, orang tua melihat surat dari anaknya, ada sukacita dan haru menjadi satu. Beberapa ibu mungkin memeluk dulu surat itu di dadanya, mengucap syukur pada Allah baru membacanya dalam linangan air mata. Setiap kata dicermati dan dibaca berulang-ulang hingga sedikit hapal sampai ditemukan si anak butuh uang. Lalu, secepatnya sehari kemudian, dikirimlah uang itu, lewat wesel pos yang sekali lagi butuh beberapa hari sebelum tiba di tangan si santri.” KH. Najib melanjutkan, “Sekarang ini, teknologi telepon bahkan sms meredusir makna dan rasa dari kata-kata. Begitu cepatnya tulisan atau kata itu bertukar tempat sehingga tidak ada lagi perasaan, tidak ada sabar dan tidak ada lagi syukur. Seorang santri yang butuh uang telpon orang tuanya: ‘Pak besok saya libur, butuh uang Rp.200.000,- tolong transfer via atm nanti saya ambil di Magelang, ingat ya Pak… awas kalo lupa…” demikian keluh pak Kiai. “Seolah-olah saat ini, syukur, hormat dan sabar tidak ada tempat dalam budaya instan.”

Pesantren (93)

Pesantren ini menyadari dunia yang berubah harus dihadapi dengan pengetahuan. Demikianlah tata ruang pesantren diatur untuk menghantar orang menemukan makna itu. Di sebelah timur, di pintu masuk ada perpustakaan sebagai simbol ilmu pengetahuan, disusul kelas-kelas. Lebih ke barat ada mesjid yang ingatkan santri orientasi hidup harus mengarah kepada Allah. “Di ujung paling barat ada makam, untuk ingatkan santri bahwa tujuan akhir manusia adalah kembali kepada Allah.” Pak Kiai menjelaskan.

Pesantren (175) Di tengah arus radikalisme semu dunia agama, Pesantren Pabelan menetapkan hati menjaga kemurnian iman dengan terus menegaskan perkembangan pendidikan. Bukan sekedar belajar formal, ketrampilan bertukang dan fotografi ditawarkan kepada para santri. “Kami tidak hanya menerima murid yang pintar, pendidikan yang baik ‘kan semestinya tidak sekedar menerima murid pintar tapi bagaimana anak-anak yang kurang pintar diterima dan bisa lebih cerdas dalaPesantren (183)m menjalani kehidupannya.” seloroh KH. Najib seperti menohok keunggulan pendidikan sekolah-sekolah Katolik, yang sering berlomba menjaring anak-anak cerdas saja sekedar memudahkan proses didik.  Dari relung-relung iman, pesantren ini telah menegaskan pendiriannya, memberanikan diri menjadi lembaga pendidikan untuk kaum marginal dengan segala resikonya. Beranikah kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: