‘So what gitu loh…’

Romo Rohadi, Maestro Batin…

Sebatang rokok filter lokal saya berikan padanya, lalu saya lihat rokok itu diusap-usap olehnya dan sejenak ia menunduk serius menatap rokok itu yang kini dipegang berdiri pada ujung filternya. Kemudian Romo Rohadi  memberikan rokok itu kembali pada saya, “Ini coba rasakan…” katanya dan saya terkejut karena rokok itu tidak lagi bercita rasa seperti biasanya, ada rasa kemenyan dan mentol menyeruak dari situ seperti rokok klobot menyan.

MBITORO 6OKT

Mencipta dari ketiadaan…

“Manusia itu diciptakan secitra dengan Allah, maka kalau Allah punya daya cipta tentunya manusia juga punya daya cipta,” ujar Rm. Rohadi. Para mpu pembuat keris adalah maestro, sama seperti Mozart dan Bethoven adalah maestro. “Seorang maestro bisa menanamkan daya cipta dalam karyanya, jika Mozart menciptakan lagu penuh semangat, orang yang mendengarnya juga tergerak dalam gairah itu demikian juga jika Bethoven mencipta lagu riang, para pendengar juga bergembira.” Jelasnya menerangkan perubahan rasa rokok kretek filter menjadi rokok klobot menyan. 

Rm. Rohadi pernah terkenal sebagai pengumpul keris. Bukan artinya dia mengoleksi keris-keris itu, tetapi dia ‘menjinakkan’ keris yang seringkali membuat pemiliknya tidak nyaman. Sebagian besar keris itu diberikan ke Taman Mini untuk disimpan dan dipamerkan sementara beberapa keris memang disimpannya. Seorang ibu dari suatu persekutuan doa berkata pada saya agar ingatkan Rm. Rohadi agar jangan menyentuh lagi keris-keris tersebut karena keris adalah alat kegelapan. Saya ingat, setelah saya sampaikan komentar ibu itu  Rm. Rohadi berkata keris adalah hasil budaya manusia, benda seni yang tinggi nilainya dan tidak mungkin benda yang bernilai seni dan keindahan sejak semula diciptakan sebagai alat kegelapan. “Manusia sendirilah yang membuatnya jadi alat kegelapan atau tegasnya, pikiran ibu itu yang membuat keris menjadi alat kegelapan karena ibu itu selalu dikelilingi kegelapan mungkin?!”

Saya senang dengan ajaran bijak Rm. Rohadi, seorang mpu yang seorang maestro keris, seperti Mozart dan Bethoven, mampu menanamkan daya cipta yang bisa menggugah emosi penggunanya. Daya cipta ini seringkali tidak bisa dipahami pewaris keris dan mungkin emosi yang dirasakan juga tidak disukai sama halnya kebanyakan anak muda zaman sekarang akan lebih suka lagu-lagu pop ringan grup Dewa, Gigi, Slank dan sejenisnya ketimbang musik-musik klasik seperti Mozart. Jika hal-hal  seni seperti keris, tombak, tari bali, kuda lumping dan budaya semacamnya dipahami melulu berbau setan atau kuasa kegelapan, orang bisa lupa bahwa kegelapan lebih sering menggunakan uang, harta dan kenyamanan lainnya sebagai alat utama karyanya.

“Kebanyakan orang sakit karena daya cipta negatif dari dirinya sendiri yang membuatnya sakit, karena ketakutan dan kekhawatirannya sendiri lalu datang pada saya menyalahkan kuasa gelap atau prasangka buruk pada orang lain sebagai penyebab sakitnya… Akhirnya dia tambah sakit karena menuduh tanpa kenyataan.” kata Rm. Rohadi. Rupanya tanpa disangka, kesedihan berlebih membuat dia sakit paru-paru, kecemasan dan stress melemahkan lambung dan organ perut lainnya, dendam dan kemarahan membuat liver mudah terinfeksi hepatitis dan seterusnya. Romo Rohadi menyembuhkan dengan memberikan ketenangan dan kesejukan batin bagi orang-orang tersebut. Bukankah dimana ada kasih dan cinta, Allah hadir? Bila Allah hadir, tentunya daya ciptaNya akan memulihkan kesempurnaan manusia yang tubuhnya dilemahkan itu. Jika pemahaman ini salah, ‘so what gitu loh…’ kenyataannya orang itu sembuh.

Daya cipta Allah yang dibangkitkan dalam manusia citraNya ini menular. Banyak orang yang telah disembuhkan dari sakit kemudian tergerak untuk mendoakan sesamanya yang lain, menanamkan daya cipta cinta Allah dalam diri orang yang masih sakit dan mengubah situasi negatif dirinya. Beberapa orang membantu Rm, Rohadi dalam komunitas berkat, “orang yang mendapat berkat akan tergerak untuk memberkati orang lain,” sekali lagi ia menjelaskan.

Komunitas berkat…

Lagu-lagu misa berkat itu tidak banyak variasi, hampir selalu sama setelah bertahun-tahun. Orang-orang yang terlibat aktif juga tidak banyak berubah, hampir semuanya orang-orang yang sama setelah bertahun-tahun. Suasananya juga tidak semakin mewah setelah bertahun-tahun. Demikian juga keakraban yang terjadi tidak berubah, semua terjadi dalam keguyuban yang sama setelah bertahun-tahun.

Bagi saya, tidak adanya perkembangan dan tidak adanya kemunduran berarti suatu kemantapan komunitas ini dalam kerendahan hati selama Rm. Rohadi mendampingi. Saya sering mendengar bagaimana komunitas berkat diundang oleh Rm. Rohadi untuk berkunjung ke tetirahan Puri Brata, di sana mereka ikut berbagi berkat bagi sesama di Ganjuran, Yogya. Bahkan dalam suasana membangun gereja di Paroki Pejompongan, Rm. Rohadi masih senantiasa mengajarkan umat paroki dan komunitasnya untuk tetap terbuka membantu orang-orang lain, paroki lain termasuk mengunjungi saya di tempat terpencil di Papua.

Menilai komunitas berkat, pasti bukan wewenang saya dan pasti saya tidak akan punya kompetensi untuk itu. Tapi saya bisa berkomentar tentang komunitas berkat. Bahwa komunitas ini berpusat pada Rm, Rohadi, saya kira semua orang bisa melihat itu. Bahwa komunitas ini akan bubar setelah Rm. Rohadi tidak bisa dampingi lagi, saya akan jawab ‘so what gitu loh…’ Menurut saya memang menyenangkan jika komunitas yang banyak mengerjakan berkat ini terus tumbuh dalam keabadian seperti berkat Allah itu sendiri abadi akan tetapi bukan suatu masalah besar sebuah komunitas muncul dan berakhir hanya selama tokohnya hidup dan selama keberadaannya itu juga mengerjakan berkat Allah bagi sesama. Komentar ini bisa menjadi pilihan untuk dipikirkan bagi siapapun yang bersinggungan dengan komunitas ini, sama juga pilihan untuk mengabaikan pikiran susah tentang kelanjutannya tetapi makin terlibat dalam kebaikan kegiatannya.

Iman yang menyembuhkan

Saya pernah ikut dalam pelayanan doa Rm. Rohadi. Bersamanya dan beberapa imam lain kami berdiri di depan altar, menumpangkan tangan dan saya menyaksikan umat yang terjamah jatuh beristirahat dalam kedamaian batin. Dalam pelayanan doa yang pertama kali saya ikut itu, pada tiap orang saya berdoa serius, mengalirkan tenaga dalam kedua telapak yang terjulur sambil mengatur napas.Tidak lama, saya mulai merasa pusing dan ketika serasa hendak pingsan saya masuk sakristi dengan ngos-ngosan dan jantung berdebar. Usai acara, sambil tertawa Rm. Rohadi mengusap-usap punggung saya dan berkata: “kalau berdoa jangan pakai tenaga sendiri, nanti cepet tua romo…”

Rupanya Rm. Rohadi mengetahui saya praktekan olah pernapasan dalam doa, karena saya pikir harus demikian. Darinya, saya belajar untuk beriman daripada sekedar berdoa. Doa dan puasa, yang selama ini sering dipikirkan sebagai hal penting dalam hidup beragama ternyata baru mengantar orang dalam iman kepada Kristus. Hubungan dengan Allah mesti sampai dalam penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah. “Saya hanya doakan orang-orang yang datang pada saya, menguatkan mereka dalam iman, soal kesembuhan dan hidup adalah masalah Tuhan.” Ujarnya meneguhkan saya yang baru saja tahbisan itu.

Pelayanan doa bagi orang sakit ini bukan kerja yang ringan. Saya beberapa kali ikut dan tidak tahan kantuk menemaninya berkeliling rumah sakit meneguhkan umat yang merintih dan beberapa sekarat, sering kali hingga menjelang pagi. Saya mengagumi kesabaran dan optimis Rm. Rohadi dalam doa dan penyerahan diri pada Allah ketika saya merasa tahu kematiannya tak terhindarkan. Setiap selesai pelayanan doa, saya tahu Rm. Rohadi sangat kelelahan, padahal ia masih harus melayani kebutuhan paroki. Tentu hal ini butuh pengaturan waktu yang ketat. Seperti pesan dari film Spiderman, with great power comes great responsibility. (bersama kemampuan yang besar datang tanggung jawab yang besar)

Pelajaran berdoa ini segera saya praktekkan, seorang putri warga Kedoya Garden menderita ostheo scheleosis dan kakinya panjang sebelah sekitar 5 cm. Saya telpon Rm. Rohadi, bertanya apa yang harus saya lakukan dan segera dia menjawab, “doakan saja Bapa Kami sambil bayangkan Kemuliaan Allah.” Saya pegang kedua kaki terjulur itu, saya berdoa seperti diajarkan dan menakjubkan bahwa kakinya seperti karet mulai memanjang ketika saya perlahan tarik. “Kepanjangan romo,” seru saudarinya membangunkan saya dari ketakjuban dan saya dorong kembali dengan mudahnya sambil terus membatin doa kemuliaan dalam debaran jantung. Peristiwa ini umurnya panjang di batin saya hingga akhirnya sangat membantu saya dalam tugas perutusan di pedalaman Papua yang minim obat, tenaga kesehatan apalagi dokter. Orang-orang sakit datang pada pastor karena mereka lebih percaya pastor daripada dokter dan saya praktekan iman itu. Saya berdoa untuk mereka, dalam kepasrahan dan cinta menyerahkan umat yang sakit itu dalam perlindungan Allah.

Guru, Romo dan Sahabat…

Saya bangga berteman dengan Rm. Rohadi, dia menjadi guru saya dalam menyempurnakan doa hingga mewujud dalam iman akan kemurahan hati Allah. Mengobrak-abrik silogisme fisika empiris saya dengan kenyataan quantum di depan mata banyak orang. Dia juga seorang Romo bagi saya yang baru sembilan tahun jadi imam ini. Menurut saya, Romo ini tidak mengambil jalan yang mudah dalam imamatnya; dia mau direpotkan oleh orang lain karena hatinya dibukanya lebar-lebar untuk mendengar kesusahan. Bukankah ini suatu perwujudan iman, ketika seorang menjadi gelisah, cemas dan tidak sabar melihat kesusahan orang lain? Menggeliat bersama umat.

Pelayanan doa di BomomaniDengan ‘keagungannya’ itu, saya tersanjung bahwa dia menjadi sahabat yang baik. Oktober 2010, Rm. Rohadi mengunjungi paroki saya di pedalaman gunung Papua, mengajak rekan-rekan imam dan artis-artis ibukota untuk merayakan liturgi ekaristi yang indah bagi umat yang minim sandang itu. Dia senang direpotkan oleh saya dan itu sangat mengharukan. Pancaran berkat kesejukan rombongannya membuat umat saya makin menggeliat hingga benarlah kenyataan ini, berkat itu menular.

Selamat pesta perak imamat untuk Rm. Rohadi dan Rm. Purbo. Kesetiaan para romo dalam imamat meneguhkan saya, ketenangan para romo membakar saya dan membuat saya belajar sabar untuk mau direpotkan juga. Saya tidak melihat cela para romo dan sekiranya ada, so what gitu loh… (Fe Enakidabi)

3 Komentar

  1. klavier said,

    17 Juli 2011 pada 04:56

    Romo Fe, I didn’t know that you could do this kinda thing.. I’m impressed.. But honestly I don’t really believe in that kinda healing, the kind of making the bone longer by saying prayer.. Although I do think that one’s mind has a great effect on the curing process.. A positive mind is one effective medicine.. ^^

    • enakidabi said,

      22 Juli 2011 pada 02:22

      It’s not me but God himself… And yes I was impressed at what happened, I think God wants to show something… And on that case, it’s not the bone was being longer but … The dislocation bone’s structure was settled back, I thinked but I don’t know what is really happened…

      • klavier said,

        23 Juli 2011 pada 02:06

        Ok.. whatever happened.. the bone got longer or the structure got adjusted.. and yes it is God Himself who did this through your prayer or someone else’s.. I do believe that, but it seems that I just can’t accept the fact that it just happened that way and there was no explanation behind it.. as in scientific explanation kinda thing..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: