ber-GELISAH, menularkan dan mentransformasinya…

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Mat 10:34) Demikian sabda Yesus yang bikin murid-muridnya gelisah dan masih banyak lagi sabda lainnya yang lebih membuat gelisah (bdk Yoh 6: 66). Baca deh dialog Yesus usai ditegur ibunya gara-gara keluarga mempelai di Kana kehabisan anggur (Yoh 2: 1-11), kemapanan Yesus dan murid-muridnya – yang sedang menikmati pesta nikah sahabatnya – terusik oleh teguran Maria, “mereka kehabisan anggur.” Jawaban Yesus digambarkan teks asli Injil Yohanes seolah-olah waton mbacot orang yang terlalu banyak minum anggur[i], “mau apa engkau daripadaKu perempuan?”[ii] Untuk saya, Kabar Gembira adalah melulu kisah manusia bertahan gelisah mencari Allah dalam dunia yang mapan dengan keadaan tanpa Allah.


[i] Mungkin Yesus sering hadir dalam pesta-pesta semacam ini dan tentunya bergabung dalam kegembiraan, yang biasanya sesuai tradisi memang berlimpah berbagai hidangan terutama anggur, hingga menimbulkan pergunjingan di antara orang-orang Yahudi (Bdk Mat 11: 19 dan Luk 7: 34). Yesus juga sering membuat perumpamaan tentang perjamuan makan dan pesta yang mungkin menjadi salah satu gaya pendekatan pewartaanNya.

[ii] UBS, The Greek New Testament third corrected edition, 1983 (Yoh 2: 4) Ti emoi kai soi, gunai (gune – gunai = perempuan).

Bantul (5) 

Membuat gelisah

Bulan Pastoral (BULPAS), disebut Rm. Riyo,SJ dalam misa pembukaan[i] diselenggarakan sebagai salah satu kontribusi Yesuit [melalui Pusat Pastoral Yogyakarta] bagi perkembangan para pelayan pastoral dan dalam kotbahnya Mgr. Pujosumarto menjelaskan kesempatan BULPAS sebagai saat mencari makna terus dari warisan pendahulu serta saat menggali seminaverba atau benih sabda dari tradisi kehidupan umat. Sebulan kemudian kata gelisah tercuat, saat saya memberi berkat penutup dalam misa harian (Kamis, 28/07/2011) dua hari sebelum tugas akhir diberikan. Saya katakan, “pergilah dan bergelisahlah, kita diutus!” dan seluruh peserta menjadi gelisah dengan ngomongin hal itu seharian. Bagi saya, membuat gelisah adalah kata yang tepat memaknai seluruh proses ini dan menularkannya adalah harapan dari hakikat BULPAS.

Menarik bahwa Kamus Bahasa Indonesia Online[ii] mengartikan gelisah salah satunya sebagai tidak tenang dalam situasi tidur sementara sebaliknya mapan berarti mantap kedudukannya dan kemapanan diartikan kepuasan dengan diri sendiri. Jadi gelisah, tidak seperti dugaan orang berkonotasi negatif, kalau dipikir-pikir malahan punya makna membuat orang lebih dinamis, mengganggu tidur dan membuat orang tidak duduk tenang-tenang serta ada nuansa terlibat dengan situasi sekitar. Peserta yang gelisah berkomentar, berdebat, berdiskusi dan bertanya menanggapi teman atau pembicara yang presentasikan pendapatnya bukan asyik diam dengan pikiran dan gagasannya sendiri.

Seorang politisi muda yang gelisah bisa melihat korupsi sebagai keris Mpu Gandring[iii] bagi para politisi muda macam Anas dan Nazarudin, yang dulunya termasuk pendobrak generasi orde baru,[iv] demikianlah kiranya bagi para pelayan pastoral muda kemapanan mesti dianggap keris Mpu Gandring yang mengancamnya. Bukankah para imam baru tahbisan biasanya idealis, penuh semangat perubahan, kreatif bereksperimen pastoral dan mengkritisi banyak kebijakan pimpinannya sampai dirinya sendiri mapan dengan gaya yang dianggapnya tepat setelah dipraktek-pastoralkan belasan sampai puluhan tahun kemudian dan seorang pastor baru tahbisan lainnya mengkritiknya kembali.


[i] Senin, 4 Juli 2011, Pk 17.00 WIB, Bulan Pastoral yang bertempat di Biara OMI, Condong Catur, Yogyakarta, dibuka dengan misa konselebrasi Mgr. Pujosumarto, Uskup Agung Semarang didampingi Rm. Riyo Mursanto. SJ, Provinsial SJ dan Rm. Mardi Kartono. SJ, Direktur PPY.

[ii] http://kamusbahasaindonesia.org/gelisah

[iii] Tentang kisah kutukan keris Mpu Gandring lihat tautan http://id.m.wikipedia.org/wiki/Keris_Mpu_Gandring

[iv] http://m.kompas.com/news/read/2011/07/29/02565152/Inikah-Kutukan-Keris-Empu-Gandring

— Saking gelisahnya dengan kasus yang menimpa politisi muda, Budiman Sudjatmiko, anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan memakai istilah “kutukan keris Empu Gandring” untuk menggambarkan kondisi saat ini… “Apakah generasi yang bangkit melawan generasi korup Orde Baru, akan jatuh dengan cara sama, laksana Ken Arok dan kutukan keris Empu Gandring?” tulis Budiman dalam Twitternya, 20 Juli.—

Kenyataan yang kau yakini belum tentu cukup nyata

misa (90) “Nyatanya umat rajin kok ke gereja, berarti mereka suka dong kegiatan di paroki…” demikian jawaban yang bisa dilontarkan seorang pastor tak berbasis data kalau ditanya apakah kegiatan di paroki menjawab kebutuhan umat. Data lebih dari kenyataan, adalah rumusan teratur dari kenyataan-kenyataan. Setidaknya seorang dosen Priyono Marwan, SJ menegaskannya secara berbeda, “data adalah fakta yang tertata.” Masalahnya fakta harus dirumuskan untuk bisa ditata dan itu artinya harus ada kegiatan mengumpulkan macam-macam fakta atau kenyataan yang ada dan harus ada aturan (sistem) bagaimana aneka fakta itu disusun supaya kembali menceritakan kenyataan.

Ibu Erry Seda, sosiolog dan dosen senior Universitas Indonesia mengkritik lemahnya pendataan umat di Keuskupan Agung Jakarta, “Sebuah kota metropolitan, hanya satu paroki saja yang punya data lengkap tentang umatnya, dan itupun paroki di Bekasi, di luar kota Jakarta.” Dari data yang dikumpulkan putri Franz Seda ini, diketahui ada banyak hal yang pantas membuat para pastor sebenarnya tidak bisa lagi mantap duduk atau tidur tenang,[i] jika mengingat aneka masalah sosial terjadi dalam hidup berbangsa, kalau tahu ketidakadilan gender menerpa mayoritas aktifis gereja yaitu perempuan dan andai bisa rasakan banyak tokoh Katolik bekerja dalam kekhawatiran di antara mayoritas muslim yang semakin banyak memunculkan oknum-oknum lebih radikal dan fanatik.

Demikian juga berdasarkan data, kenyataan beratnya kehidupan minoritas Gereja Indonesia di antara teror FPI atau diskriminasi negara dan intimidasi sejumlah muslim tertentu ternyata masih lumayan, menurut Franz Magnis, SJ. Maka pluralitas harus dijaga dengan sadar bahwa kita juga jangan punya klaim tunggal atas kebenaran atau keselamatan orang beragama lain. Misi membaptis semua bangsa menjadi murid Kristus[ii] harus didasarkan pada penghormatan kebenaran agama lain tanpa memaksakan apalagi menakut-nakuti orang agar dibaptis, karena orang bukan beragama Kristen juga mungkin masuk surga. “Pewartaan Injil dan pembaptisan menjadi anggota Gereja tetap menjadi hal penting karena hal itu toh menjadi kegembiraan, yang pantas diperjuangkan.” Tegas Romo Magnis mengakhiri pengajarannya. Jika saat ini pembaca gelisah dan merasa percuma dibaptis jadi Katolik, itu bagus karena iman anda dipertanyakan dalam batin.

Kesulitan berpastoral yang dihadapi semakin kelihatan ketika Mgr. Situmorang, OFMCap, ketua KWI mengatakan belum ada pembicaraan teknis pastoral antar uskup soal keterlibatan Gereja dalam perekonomian sebagai bentuk pelayanan dan pewartaan.[iii] “Saya kira ini satu hal yang cukup menarik untuk dilontarkan dalam bincang-bincang dengan para uskup,” janji Uskup Padang itu. Sebaliknya, kalau bicara teknis pastoral ekologi Rm. Andang SJ gulirkan hal sederhana untuk mulai taruh sampah dan jadikan berkat. “Kata yang digunakan taruh sampah, sehingga jelas harus masukkan di tempat sampah dan bukan sekedar buang,” ujarnya.

Tamasya ke pesantren Pabelan dan berjumpa dengan KH.Najib pimpinannya seperti menjelaskan arti ‘masih lumayan’ yang diungkap Rm. Magnis.[iv] Demikian juga menikmati misa alam berlumpur di stasi Lor Senowo, yang 5 jam lamanya itu, menyadarkan pentingnya data untuk menentukkan bentuk pelayanan pastoral dan bertransformasi, berubah bentuk-fungsi bolak-balik secara fleksibel untuk sungguh mengakarkan iman Katolik dalam kehidupan umat-petani. “Boleh merokok di gereja Gubuk Selo Merapi, karena gedung ini juga dipakai untuk pentas seni masyarakat,” terang RD. Supri, seorang peserta BULPAS yang dulunya turut dalam proses merintis bentuk pastoral di stasi ini. Silahkan para pembaca konservatif gelisah sehingga punya mau untuk mencermati kebijakan ini.


[i] Lihat alinea kedua dalam tajuk ‘Membuat Gelisah’

[ii] Bandingkan Mat 28:19 atau lebih keras lagi Mrk 16: 15-16.

[iii] Silahkan baca blog http://missionsurvivalpapua.wordpress.com

[iv] Silahkan baca tajuk ‘Pabelan Dalam Zaman Ketidaksabaran…’ dalam blog https://enakidabi.wordpress.com

Lor Senowo (165) Menantang nalar, menggelitik tanya, mendebarkan rasa dan gregetan adalah salah satu ciri gelisah. Dengan itu kenyataan tertampak dikritisi kisahnya, dicari tandingan dan kisah lain yang masih tersembunyi, dirumuskan ulang dan disusun kembali untuk jadi kisah yang mendorong kita membuat riak dan ombak dalam telaga tenang kenyataan itu.

Mengakali globalisasi

Francis Wahono (23)

Globalisasi adalah neoliberalisme dalam bentuknya yang paling asli, suatu penjajahan resmi atas sosial, politik, ekonomi dan budaya oleh bangsa maju bagi rakyat dunia ketiga. Gilaaa! rumusan Francis Wahono ini bikin saya gelisah karena saya biasa bangga sebagai aktifis sosial tapi baru tahu kalau globalisasi ternyata seperti itu.[i]

Era ini mengerikan, selembar kertas yang disebut sertifikasi paten bisa mengklaim kepemilikan atas suatu kekayaan tradisi dan nalar. Seperti tempe, yang dipatenkan beberapa usahawan di Jepang, rendang Padang oleh pengusaha kuliner Malaysia, batik Jawa oleh Adidas, Kopi Toraja oleh pengusaha Key Coffee, Jepang dan Kopi Gayo oleh pengusaha Belanda, motif kerajian perak Desak Suwarti, ukiran Jepara dan lainnya hiingga 33 item.[ii] Pastor mapan pasti nggak gelisah, padahal selembar kertas itu mencekik nafkah petani dan pengrajin kecil serta umatnya yang sekedar buruh, padahal sejatinya pemilik dan (seharusnya) penikmat karya intelektual itu. Sekarang petani kopi Toraja tidak bisa ekspor kopi, kecuali lewat Key Coffee Jepang yang empunya merek, sama seperti petani kopi Gayo, yang mereknya dipatenkan pengusaha Belanda. Mestinya para pastor gelisah, karena masalah kepemilikan berkat selembar kertas itu bisa terjadi di manapun juga, khususnya soal tanah, bangunan serta kegiatan yayasan.

Mengakali globalisasi harus pakai dasar ajaran sosial gereja, mulai dari Rerum Novarum sampai Centessimus Annus, paling sedikit hapal deh satu dua pasal yang bisa dijadikan bekal berkarya. Misalnya soal pentingnya solidaritas dasarnya ada pada SRS 39 dan 40, soal pendekatan yang sesuai keadaan masyarakat, renungkan kuliah Purwatmo, Pr memperhatikan kegelisahan uskup-uskup Asia dalam FABC, sambil ingat-ingat lagi dokumen Konsili Vatikan II. Akhirnya memang jadi pastor atau pelayan pastoral di paroki ngga boleh berhenti belajar malahan harus cerdas terbekali terus ilmu-ilmu. Dalam BULPAS persoalan membangun komunitas dikeroyok tiga dosen andalan, Rm. Priyono Marwan,SJ, Rm.Kieser,SJ, Rm. Poerwatmo, Pr dan Rm. Madya,SJ. Artinya membangun komunitas bukan soal sepele, ngumpulin orang lalu bikin kegiatan belaka, ‘yang kakek gue juga bisa’ tapi serius perhatikan jiwanya, solidaritasnya dan kaderisasinya sambil sadar harus tegakkan persaudaraan Kristiani, memberontak terhadap globalisasi.

Ngga main-main nih, kebutaan terhadap globalisasi bisa membuat tokoh-tokoh kunci pastoral malahan jadi antek-antek neolib! Contohnya sudah ada, Uskup Romero mati sendirian ketika uskup-uskup lainnya menikmati pujian dari para penguasa dan pengusaha El Salvador. Pribumi Bomomani, Timeepa, Modio dan lainnya di wilayah Mapia, yang seluas Jabotabek sedikitnya sudah 25 tahun pintar bertani kopi, tapi sampai sekarang masih beli kopi jagung buatan pendatang Bugis-Makasar, secara misionaris dulu pusatkan produksi kopi di pusat misinya. Niat baik saja tidak cukup kawan…


[i] Waktu SMA saya ikut mengajar di bawah kolong jembatan cawang, 1996 menjadi peneliti lepas YAPUSHAM, 1997 tulisan saya Human Rights And Javanese Ethic diterbitkan di Jepang dalam kumpulan buku Human rights in Asian cultures, continuity, and change (hal: 275), 1998 – 1999 aktif dalam Forum Indonesia Muda, ketua FORSOS Yogya 2000 – 2001, mengkritisi ketidakadilan terhadap pegawai paroki awal tahun 2002 dan 2004 -2011 ikut memikirkan perubahan sosial di pedalaman Papua.

[ii] http://endik.seniman.web.id/2009/08/33-warisan-budaya-indonesia-yang-di.html

Transformers

Awalnya Bumblebee berupa sedan tua Chevrolet Camaro, sampai Sam Witwicky mengeluh terus gara-gara mobilnya kurang signifikan untuk menggaet cewek-cewek ABG, walau masih relevan sebagai alat transportasi. Maka berubahlah rongsokan itu menjadi all new Camaro Sport Car. Tapi mobil-mobil itu hanya penampakan umum untuk bisa membaur di antara manusia yang doyan mobil keren. Saat situasi kritis, atau saat komunikasi internal membutuhkan atau saat situasi lain diperlukan, mobil-mobil itu berubah wujud menjadi robot tempur, yang dahsyat dengan segala kecanggihan untuk mengatasi aneka masalah. Saya nonton film Transformer supaya bisa belajar bagaimana transformasi itu terjadi.

P7040005

Rupanya, transformasi bukan sekedar berubah lebih mumpuni menghadapi situasi baru, pastoral transformatif agaknya suatu kelenturan untuk berubah suai wujud bolak-balik menghadapi situasi umat, yang lapangan dan karakternya berbeda-beda dan dinamis. Selama menjalani tugas misi di pedalaman Papua, saya rasanya terus bersuai wujud. Satu kali jadi pedagang, kesempatan lain sopir mobil angkot, lalu jadi tukang tahu, sekali-kali jadi petani sayur dan kopi, lain waktu jadi pendaki gunung untuk kemudian menjelma jadi pelayan sakramen tapi tetap bisa tampil keren sebagai pastor di antara umat Jakarta.

Apakah lalu saya bisa terus merubahwujudkan pastoral saya di Jakarta? Pengalaman hidup yang terlempar-lempar dalam aneka model kehidupan, mungkin bisa jadi kebiasaan kuat bertransformasi, tetapi dari keterlibatan selama BULPAS saya sadar hal itu tidak gampang. Menularkan kegelisahan di antara orang-orang bukan perkara sulit, karena keberadaan saya sepertinya suatu pembuat gelisah namun mentransformasi gelisah menjadi suatu solidaritas kemurahan hati berpengaruh luas hingga terus menerus me-makin-kan beriman, bersaudara dan melayani perlu ketekunan dan kerja keras cerdas.

Karakter kepemimpinan saya yang terukur bergaya partisipatif dengan kemampuan adaptasi cukup tinggi bisa jadi kekuatan, kesempatan dan potensi mengungguli kelemahan dan tantangan di medan pastoral baru di Jakarta. “ Gaya dominan anda tetap harus digunakan sesuai kondisi di lapangan, jangan pakai gaya partisipatif ketika menjadi guru dan umatmu masih harus diajar pengetahuan baru, tidak tepat mengajar tanpa bergaya telling atau selling,” kira-kira begitu terang Rm. Madya, SJ. Dari pendampingan Rm. Madya, SJ tersebut, saya tersentak gelisah karena rating informasi saya masih cukup rendah yang kalau saya terjemahkan lebih ‘sok tahu’ dari pada ‘sungguh tahu’. Sisi pengetahuan ini yang menjadi tantangan untuk dikembangkan duluan saat mulai berpastoral dan ini tentu bersambung dengan pastoral berbasis data.

kalung projak

Mencitrakan diri sebagai gembala baik, hamba uskup yang sedia diutus ke mana saja, saya sadari harus juga tersedia dalam perutusan apapun, sambil menghayati beban karakter projo Jakarta yang hangat, bisa di-andal-kan, misioner, bahagia dan siap andil terlibat dalam ragam keprihatinan umat melampaui semata ditugaskan. Rencana aksi usai BULPAS ini sederhana, pertama-tama membiasakan diri membuat catatan kronik gerakan saya di Paroki Kalvari. Lalu dalam satu bulan pertama, saya akan berkenalan dan mencoba akrab dengan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh muslim yang berpengaruh. Mengunjungi aktifis paroki dalam tiga bulan pertama tugas saya sekaligus mengenal daerah-daerah cakupan tugas saya dan membuat peta sosio-geographis. Bersama dengan rekan imam muda merumuskan kembali modul kaderisasi orang muda dalam jaringan. Sementara terkait program kerja paroki, yang saya kira saat ini dalam proses pendataan dan penentuan visi/misi tentunya tepat jika kegelisahan selama BULPAS ditularkan agar ada Roh Allah menggeser kemapanan cara pandang masing-masing.

Semoga segala rencana baik direstui Allah dan namaNya dimuliakan dalam setiap hati manusia. Tuhan besertaku, aku tidak takut apakah yang dapat dilakukan manusia terhadapku?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: