Lebih Berat Uskup daripada Yesus

Kunjungan Uskup Timika ke Stasi Terpencil

Mgr.John Philip Saklil, Uskup Timika tidak sempat beristirahat lama karena umat sudah sedari tadi menunggu kedatangannya dengan tandu, yang sudah disiapkan di depan pastoran Bomomani. Uskup John menyebutnya mobil delapan kaki. Ketika beliau melihat corpus Yesus, yang terpasang pada salib sepanjang dua meter hanya dipikul dua orang beliau berseloroh, “Uskup lebih berat dari Yesus ya…” maka semua umat tertawa. Setelah diyakinkan perihal kekuatan tandu, bapak Uskup akhirnya naik tandu. Lagu Salam Maria dalam irama dan bahasa setempat langsung berkumandang agung. Empat orang memikul Uskup Timika mengunjungi stasi Abaimaida, yang walaupun termasuk stasi terdekat namun letaknya jauh di pelosok kaki gunung Dogiyai tujuh kilometer dari pusat paroki Bomomani.

abm2

Ketika tekad umat bersatu dengan pastornya

Sabtu (27/11/2010) secara kebetulan jika bukan suatu penyelenggaraan Illahi, kunjungan kerja dan syukuran pengangkatan pejabat care-taker bupati Dogiyai, yang kebetulan putra daerah Abaimaida bersambung dengan rencana Uskup untuk mengunjungi stasi terdekat paroki Bomomani yakni Abaimaida, yang ‘hanya’ satu setengah jam jalan kaki di medan pegunungan tengah Mapiha. Kunjungan Uskup Timika ke stasi ini diusulkan oleh pastor paroki sebagai peringatan 8 tahun tahbisan imamatnya yang tepat dirayakan pada hari tersebut. Baguslah usulan ini disambut baik oleh umat stasi.

Dalam suatu perarakan meriah tandu Uskup berangkat, didahului pembawa salib besar untuk Kapela baru St. Maria Penolong Abadi, Abaimaida; dihantar oleh para misdinar, penari-penari dan para suster dari Moanemani, Timika maupun Nabire serta tentu saja kedua pastor paroki. Di antara para suster, para pengikut Savelberg dari komunitas DSY Moanemani tampak menunjukkan diri sebagai suster-suster muda yang sudah beradaptasi dengan pedalaman gunung: Sr. Adelgonda, DSY dan Sr. Ernestin, DSY berjalan cepat ke depan dan menahan laju rombongan supaya dapat diikuti para suster dari kota, Sr. Bias, OSU, Sr. Bernadeta, TMM, Sr. Juliva, SMSJ dan terutama Sr. Sera AK, yang walaupun bersemangat tetap tidak bisa menipu umur yang menahan tubuh berakselerasi dengan baik di wilayah pegunungan Mapiha. Namun perjalanan itu akhirnya terbayar dengan pemandangan indah Abaimaida di kaki G. Dogiyai dan rangka-rangka kokoh yang merangsang orang membayangkan keunikan wujud kapela baru nanti.

Stasi Abaimaida, seperti beberapa stasi lain di paroki Bomomani, sedang membangun kapela baru yang lebih besar karena pertambahan umat. Aneka kebetulan yang terjadi pada hari itu membawa berkat istimewa bagi kampung terpencil ini. Bupati caretaker Bp.Gervasius Dogomo mengucapkan satu kata sambutan saat beliau diminta memasang salib, yang tadi dipikul dari pusat paroki. “Saya takut pasang salib ini karena berat tanggung jawabnya, sementara saya orang berdosa. Gereja dan pemerintah layak bekerja sama. Gereja membangun hal rohani dan memberi makan jiwa sementara pemerintah membangun dunia dan memberi makan tubuh, pemerintah hanya bisa kasih uang.” Kata-kata ini ditangkap jelas oleh Uskup Timika. Menurut Uskup, kata-kata itu tepat, supaya Gereja membangun iman dan memperkembangkan jiwa dan roh sementara pemerintah membangun sarana-sarana yang penting dalam dunia ini agar pekerjaan membuat manusia menjadi lebih baik, yang dilaksanakan Gereja bisa dikembangkan.

Mgr John, yang mengenal karakter umat suku Mee, membuat acara ebamukai. Suatu acara permintaan sumbangan secara langsung kepada umat, yang sekali lagi kebetulan dihadiri banyak pejabat pemerintah. “Saya mulai dengan sepuluh juta!” seruan Uskup memanasi ‘bantingan’ sumbangan. Suasana menjadi seru ketika Frans Tekege, administrator paroki Timeepa tampil dan janjikan sumbangan lima juta memanasi Pastor Michael, pastor baru paroki Bomomani yang tidak mau kalah sebutkan angka yang sama meskipun sejak awal pembangunan pastoran Bomomani sudah banyak membantu. Tanpa disangka-sangka, akhirnya terkumpul uang tunai seratusan juta dan janji sumbangan dari para pejabat dan umat, yang jika ditotal sejumlah dua ratusan juta. Suasana haru karena harapan umat Abaimaida menyelesaikan kapela yang mereka mulai dengan cucuran peluh swadaya itu kini mulai mewujud.

Perjalanan Lelah Yang Menyenangkan

Dalam perjalanan pulang, Mgr John mengungkapkan kekaguman atas hidup menggereja umat Bomomani, yang demikian dinamis. “Saya kira Abaimaida suatu stasi yang memang dekat, ternyata sambil duduk saja pinggang terasa pegal…” ujar uskup “tapi pemandangan sangat indah di pegunungan Mapiha dan umat yang memikul saya seperti menikmati penderitaan mereka.” Sambungnya sambil tertawa dan menambahkan semoga semangat itu muncul karena iman dan bukan karena baru saja dapat uang dari ebamukai. Ke-empat pemuda yang memikul tandu uskup meringis sambil berlompatan kecil menghindari lumpur membasahi kaki telanjang yang melangkah lebih cepat dari para suster yang sudah kelelahan.

Selain mengunjungi stasi Abaimaida dengan mobil delapan kaki, Bapak Uskup juga menyempatkan diri berkunjung dengan mobil sungguhan, mobil dinas Pater Michael berpenggerak empat roda. Saat ini, semenjak percepatan pembangunan jalan trans Nabire-Enarotali telah kelihatan hasilnya, ada tiga stasi yang dapat dilalui dengan kendaraan darat: Ekago, Ugida dan Pouto. Uskup mengunjungi stasi Ugida dan Pouto, keduanya juga sedang membangun kapela baru, yang sudah hampir selesai karena banyak bantuan dari para kontraktor, yang sedang mengerjakan proyek pengaspalan jalan trans tersebut di wilayah kampung mereka. Uskup menekankan, “Bangunan gereja atau kapela adalah perwujudan iman umat, jadi jangan minta uang pada uskup atau pastor! Mintalah berkat agar ada perkembangan iman sehingga bisa mewujudkan harapan dan doa umat, karena berkat datang lewat sumbangan kerja keras dari umat sendiri dan berbagai pihak.”

Saat ini, empat dari tujuh kampung dalam paroki Bomomani sedang membangun kapela baru karena perkembangan jumlah umat yang membuat kapela lama tampak sempit. Semua kapela tersebut sebagian besar dana pembangunannya dicari dengan swadaya umat dan sumbangan di antara stasi. Stasi Ugida mencari dana dengan membuka kios selama tiga tahun lebih sebelum mulai membangun kapela batu St.Petrus. Demikian juga stasi Abaimaida dan Pouto menyisihkan keuntungan kios stasi, pekerjaan proyek pemerintah dan dana-dana bantuan untuk desa guna memulai pembangunan kapela di kampung masing-masing. Namun, yang paling mengagumkan adalah kapela St.Veronika. Stasi terjauh dan paling terpencil di Amaikebo ini (1773 meter dari permukaan laut) sepenuhnya membangun kapela dari kerja keras swadaya lima kepala keluarga, yang baru saja menjadi Katolik tiga tahun terakhir. Sehingga tepatlah kata-kata Kristus: “barangsiapa mempunyai iman sebesar biji sesawi saja ia dapat memindahkan gunung… takkan ada yang mustahil bagimu” (bdk Mat 17:20). (Enakidabi)

1 Komentar

  1. 12 September 2011 pada 13:09

    SungguH Luar Bias…;-)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: